Berita  

Pusat Belanja Wisata Pangandaran Dulu Diresmikan, Kini Ditinggalkan

Kondisi salah satu sudut pusat belanja wisata
Kondisi salah satu sudut pusat belanja di destinasi wisata Pantai Pangandaran.

DAILYPANGANDARAN – Roboh, berkarat, rusak dan sepi pengunjung, begitulah kondisi pusat belanja di destinasi wisata Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Bahkan, sejumlah ruko gulung tikar karena tidak prospek untuk penjualan.

Setidaknya, ada 4 titik pusat belanja wisata yaitu Najung Sari, Nanjung Endah, Nanjung Elok, Nanjung Asri yang tersebar di Pantai Timur dan Barat. Masing-masing bangunan itu mempunyai ukuran 3×2 meter.

Pusat belanja wisata itu semula diproyeksikan menjadi tempat relokasi pedagang yang awalnya berjejer di Pantai Pangandaran dengan banguna tenda biru. Namun, tempat tersebut tidak bertahan lama.

Sebagaimana diketahui, pusat belaja yang menjadi lokasi relokasi tersebut diresmikan langsung era Gubernur Ahmad Heryawan dan Bupati Pangandaran era Jeje Wiradinata pada tahun 2017 yang lalu.

Semula bangunan tersebut cukup gagah, namun hanya bertahan beberapa tahun. Dianggap tidak prospek, pedagang yang direolokasi secara berangsur mundur dan membandel berjualan ke depan pantai.

Informasi yang dihimpum, pedagang yag direlokasi dari Pantai Pangandaran ada 1.364. Namun saat ini, mulai sepi.

DetikJabar mencoba mengunjungi keempat pusat belanja di pantai timur dan Barat Pangandaran. Pedagang yang bertahan berjualan mayoritas tinggal di bagian depan ruko. Bahkan, ada yang mulai memasang lagi tenda biru di bagian depannya.

Jantung bangunan ruko pusat belanja itu kontruksinya mulai lapuk, berkarat dan roboh. Di bagian lantai dua, lorong bangunan itu bau pesing, terdapat sampah berbagai jenis. Salah satunya berserakan botol miras.

Di bagian sudut bangunan, dipenuhi rumput dan ilalang yang mulai tinggi. Ada pemandangan yang tak biasa, satu sudut tembok bertuliskan “Barang Milik Daerah Pemerintah Kabupaten Pangandaran Disparbud”. Dibagian langi-langit gedung sudah terlihat atap baja ringan.

Salah satu pusat belanja itu Nanjung Sari, dulunya merupakan hotel pertama di Pangandaran. Ikonik itu hilang seketika, oleh bangunan baru yang kumuh dan bau.

Gelap dan sempit, kalimat yang banyak penjual keluhkan saat ditanya soal sepinya pengunjung ke pusat belanja itu. “Gimana mau ada pembeli lorong ruko hanya berukuran satu meter. Jadi gelap dan sempit,” ucap Satimin mantan pedagang pakaian pantai di pusat belanja, Selasari (20/1/2026).

Ia mengatakan saat ini sudah menutup toko di tempat tersebut lantaran tidak ramai pengunjung. “Kalo saya kira bangunan bagus doang untuk apa. Kalo tidak menarik pengunjung,” katanya.

Menurutnya, banyak pengunjung yang lebih nyaman belanja di depan ruko, kalo posisinya yang didalam itu susah lakunya. “Susah lakuknya lorong rukonya sempit wisatawan mungkin merasa gak nyaman aja,” ucapnya.

Perjalanan menyusuri gedung besar kosong itu berlanjut di pantai timur. Sebagian ruko ada yang dimanfaatkan sebagai tempat tonggal. Tak sedikit, nelayan yang memanfaatkan menjadi gudang jaring ikan.

Pilu, kondisi itu membuat bangunan pusat belanja di panta timur itu mati suri.

Memasang raut wajah senyum, dengan perasaan bahagia. Setiap orang yang lewat tidak kenal warga lokal atau wisatawa selalu menyanyikan “Acukna a, kolor pantainya a (bajunya, celana pendek pantainya),” ucap salah satu pedagang di tempat tersebut.

Towiyah (70) namanya, ibu paruh baya yang mengaku suda berjualan di Pantai Pangandaran sejak tahun 1980an. Ia mengingat betul ramainya pantai itu sebelum banyak hotel besar.

“Dulu waktu itu jualan baju ruko kecil pinggir pantai ramai. Mungkin karena langsung dekat dengan wisatawan,” ucapnya.

Meski demikian, ia menyebut jika saat berdagang di pantai terlihat kumuh karena para pedagang menggunakan tenda biru. “Kalo dulu saat jualan di pesisir itu pakai tenda biru, makanya direlokasi kesini,” ucap dia.

Namun, setelah di relokasi dirinya mengaku mengalami penurunan pendapatan yang signifikan.  “Memang sejak pindah ke bangunan ini, ekonomi susah yang dbelakang sulit dijualnya,” katanya.

Ia bercerita waktu di pinggir pantai pendapatan sangat lumayan besar “Ramai waktu jualan di pinggir pantai sebetulnya,” kata dia.

Namun, kata dia, di pusat belanja ini tidak banyak wisatawan yang masuk “Mungkin gak betah masuk. Bangunan dalam terlalu gelap,” katanya.

Ia mengatakan kondisi itu tidak berlaku bagi yang berjualan di bagian depan. “Yang di depan mendingan, ada aja,” katanya.

Sementara saat ini, melariskan satu pakaian saja dianggapnya sudah sangat bersyukur. “Kalo sekarang penglaris satu aja yang laku sudah alhamdulillah,” ucapnya.

Bahkan, jika  ramai wisatawan paling gede hanya mendapatkan ratusan ribu. “Kalo dulu sepi pengunjung saja bisa dapat Rp 500 ribu dan kalo ramai mencapai Rp 1 juta per hari,” katanya.

Ia berharap bagi para pedagang yang bertahan agar ada kepastian kondisi pusat belanja tersebut. “Mudah-mudahan dibangun ulang karena sudah bocor-bocor sekarang mah,” ucapnya.

Selain itu, dirinya meminta  Pemda Pangandaran memikirkan agar bisa terurai ke pusat belanja di tempat tersebut. “Sekarang gak ada promosi, maunya pemda juga bantu meramaikan gimana caranya wisatawan berlabuh kesini,” katanya.

Sepinya pusat belanja wisata itu pun menjadi objek penelitian mahasiswa, dalam jurnal yang berjudul “Kajian Keberadaan Empat Senteral Belanja di Kabupaten Pangandaran Terhadap Pertumbuhan Minat Belanja Wisatawan” oleh Ali Hanif Darusman pelajar di Program Studi Manajemen Resort dan Leisure Universitas Pendidikan Indonesia (2018).

Dalam kajian ini penulis melihat tidak adanya bentuk bantuan promosi dari pihak pemda Pangandaran terhadap minat pengunjung mendatangi pusat belanja tersebut. Meskipun pemindahan PKL dari pantai ke pusat belanja sebuah kebaikan, namun tidak ada solusi keberlanjutan untuk menambah penghasilan para penjual yang telah direlokasi.

Walaupun fasilitas di pusat belanja sudah dilengkapi wc umum, tempat duduk dan jembatan ke sky walk pantai Barat Pangandaran, belum signifikan menambah jumlah pengunjug ke tempat tersebut. Dari hasil penelitian itu, pihak pedagang yang berada di lokasi tersebut meminta penataan ulang yang dapat meningkatkan penjualan.

Respon Pemkab Pangandaran

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi (Disdagkop), dan UKM Kabupaten Pangandaran Tedi Garnida membenarkan jika pusat belanja itu merupakan banguna aset Pemda. “Itu bangunan merupakan aset dari Pemda, karena dibangun oleh Pemda.

Cuman tanahnya milik PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api),” ucapnya Tedi  melalui pesan WhatsApp.

Namun, menurut Tedi, pengelolaan pasar Nanjung itu sepenuhnya oleh Dinas Pariwisata, bukan perdagangan. Seperti halnya Pasar Wisata.

“Pengelolaanya oleh dinas pariwisata, berdasarkan Surat Keputusan Bupati,” katanya.

Exit mobile version