Jurus Kadisdikpora Pangadaran Akselerasi Pendidikan Karakter Melesat Dengan Safari

Kadisdikpora Pangandaran Soleh Supriadi
Kadisdikpora Pangandaran Soleh Supriadi.

DAILYPANGANDARAN – Langkah kaki Soleh Supriadi menyusuri sepuluh kecamatan di Kabupaten Pangandaran bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Sebagai nakhoda baru di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), ia memikul beban sebagai ‘panglima’ bagi ribuan guru dan tenaga pendidik.

Sejak resmi menjabat pada akhir Desember 2025, Soleh langsung tancap gas melakukan berbagai lompatan besar guna mengakselerasi program unggulan Bupati Citra dan Wakil Bupati Ino: ‘Pendidikan Karakter Melesat’.

Dalam safari perdananya di awal Januari 2026, mantan Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DKPKP) ini memilih bertatap muka langsung dengan para guru.

Di balik podium, ia tak sekadar memberikan instruksi, namun merajut komunikasi adaptif yang menyentuh nurani. Soleh menekankan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah ganjalan untuk berdedikasi.

Baginya, martabat guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa harus dijaga melalui disiplin dan kesetiaan pada modul ajar.

Satu hal yang menarik, Soleh memperkenalkan istilah ‘malpraktik guru’. Ia menegaskan bahwa lalai terhadap tanggung jawab mengajar sama berbahayanya dengan kelalaian medis.

“Tidak hanya dokter yang bisa melakukan malpraktik, guru pun bisa. Jika mereka lalai terhadap modul ajar, itu adalah malpraktik,” tegasnya.

Baginya, guru adalah ujung tombak pembentuk karakter; guru yang mengajar dengan tenang akan lebih mudah memikat perhatian murid.

Soal Tabungan Sekolah

Namun, perjalanan Soleh tak lepas dari kerikil tajam, terutama polemik tabungan sekolah yang menghantui dunia pendidikan Pangandaran. Alih-alih menggunakan ancaman hukum yang kaku, Soleh memilih jalur persuasif.

Ia menyentuh sisi spiritual para guru, mengingatkan tentang rezeki yang barokah dan kejujuran sebagai ASN yang sudah memiliki gaji tetap.

Dalam menyelesaikan tunggakan tabungan siswa, Soleh menempuh jalan yang tak lazim. Jika secara syariat atau hukum formal sudah dilakukan namun buntu, ia kini mengetuk pintu hati lewat jalur hakikat.

“Kami mendoakan supaya hati mereka lapang dan bagi yang memiliki utang tabungan bisa tergerak untuk mencicilnya,” ungkap Soleh.

Sebuah ikhtiar batin untuk membenahi sistem pendidikan, sembari memastikan kebiasaan baik seperti salat berjamaah dan menjaga kebersihan lingkungan dimulai dari teladan sang guru sendiri.

Exit mobile version