‘Naga Bentang’ yang Terlelap Selamanya di Pesisir Batukaras

Hiu Tutul
Hiu Tutul terdampar di Pantai Batukaras. Istimewa

DAILYPANGANDARAN – Debur ombak di Pantai Sanghiangkalang, Batukaras, Kabupaten Pangandaran, mendadak terasa berbeda pada Senin (3/8/2026) malam. Sekitar pukul 19.00 WIB, warga dan nelayan setempat dikejutkan oleh pemandangan tak biasa di bibir pantai. Sesosok raksasa laut, seekor hiu tutul atau yang akrab disapa warga lokal sebagai “naga bentang”, terdampar dalam kondisi memprihatinkan.

Saat pertama kali ditemukan, sang raksasa samudera itu sebenarnya masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Namun, takdir berkata lain. Kondisi pesisir yang gelap gulita ditambah hantaman arus yang kuat membuat upaya evakuasi ke tengah laut menjadi mustahil dilakukan. Satwa dilindungi dengan bobot sekitar 1,5 ton dan panjang mencapai lima meter itu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di daratan.

Pagi harinya, Selasa (4/8/2026), bangkai hiu tutul tersebut menjadi pusat perhatian. Warga berkerumun, menatap nanar pada tubuh besar yang kini terbujur kaku di pasir pantai. Berdasarkan penuturan nelayan, sehari sebelum ditemukan mati, hiu tersebut sempat terlihat berenang sangat dekat dengan daratan. Diduga kuat, satwa jinak ini tengah mengejar kawanan ikan kecil sebagai sumber makanannya hingga tanpa sadar terjebak di zona dangkal.

Bagi masyarakat Batukaras, kemunculan hiu tutul bukan sekadar fenomena biologis biasa. Satwa yang juga dikenal dengan sebutan ikan persong ini memiliki ikatan emosional dan mitologis dengan warga lokal. Kehadirannya sering kali dianggap sebagai “tamu tahunan” yang membawa pesan dari alam, terutama saat memasuki musim kemarau.

Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kontamina Batukaras, Dede Sutarman, mengungkapkan bahwa kemunculan naga bentang justru diyakini sebagai pertanda baik bagi para nelayan. Fenomena ini dianggap sebagai indikator melimpahnya populasi ikan di perairan sekitar Pangandaran.

“Hitu tutul itu juga sering disebut ikan persong atau ikan naga bentang kalo orang sini bilangnya,” ucap Dede, Selasa (4/8/2026).

Dede menjelaskan, ada kepercayaan turun-temurun yang melekat erat di hati masyarakat mengenai kedatangan satwa ini. Kehadirannya di pesisir seolah menjadi sinyal bahwa musim kemarau telah tiba, membawa serta berkah hasil laut yang melimpah.

“Kepercayaan masyarakat sini seperti itu,” katanya singkat, menegaskan kearifan lokal yang masih terjaga.

Dede menambahkan bahwa warga dan nelayan adalah pihak yang pertama kali menyadari keberadaan hiu tersebut. Kini, fokus utama mereka adalah memberikan penghormatan terakhir bagi sang naga bentang dengan cara yang layak.

“Panjangnya sekitar lima meter. Rencananya akan dikubur setelah air laut surut,” ungkap Dede.

Proses evakuasi akan segera dilakukan begitu air laut mulai surut sepenuhnya. Langkah ini diambil bukan hanya sebagai bentuk kepatuhan terhadap perlindungan satwa, tetapi juga untuk menjaga kenyamanan lingkungan di kawasan wisata tersebut.

“Setelah berhasil dipindahkan dari bibir pantai, bangkai satwa dilindungi ini akan dikubur guna mencegah timbulnya aroma tidak sedap serta menjaga kebersihan lingkungan di kawasan Pantai Batukaras,” tutupnya.

Exit mobile version