Kunci Gen Y Tetap Termotivasi Di Organisasi Modern
oleh: Mathilda Panjaitan, Mahasiswa Magister by Project FIKOM UNPAD
Membangun Motivasi Gen Y melalui
Komunikasi Organisasi yang Transparan
Di tengah transformasi digital di organisasi modern, satu hal yang juga penting selain teknologi dan infrastruktur adalah sumber daya manusia, alias pegawai. Saat ini, sebagian besar pegawai di organisasi modern didominasi oleh Generasi Y (Gen Y) atau milenial, generasi yang dikenal adaptif, cepat belajar, tetapi juga sangat peka terhadap cara organisasi berkomunikasi. Mereka tumbuh di era digital yang serba terbuka.
Karakteristik Gen Y
Kebanyakan orang berpikir bahwa gaji dan/atau fasilitas yang diberikan Perusahaan/organisasi adalah motivasi terbesar pegawai dalam bekerja. Namun bagi Gen Y, kejelasan atau keterbukaan informasi merupakan suatu hal yang tidak kalah penting.
Dengan karakteristik tersebut, Gen Y terbiasa dan cekatan dalam mengakses informasi, baik itu dari infromasi yang didapatkan dari media sosial, media massa atau bahkan dari “narasumber” langsung. Kemampuan dalam mengakses informasi yang cekatan ini juga mereka lakukan saat bergabung atau bekerja di Perusahaan/organisasi, sehingga ekspektasi Gen Y Adalah mereka bisa mendapatkan semua informasi yang ingin mereka ketahui. Terutama keterbukaan informasi mengenai kebijakan tentang penghasilan, fasilitas, promosi dan hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan lainnya.
Namun, pada kenyataannya ada beberapa informasi dalam organisasi dengan birokrasi kompleks contohnya seperti PLN, tidak dapat mereka akses dengan mudah dikarenakan beberapa hal misalnya: sifat informasi itu rahasia, pegawai penerima informasi tidak berada di level/jabatan yang tepat sehingga ada kemungkinan ketika informasi tersebut disampaikan kembali secara berjenjang, informasi yang diterima oleh pegawai tidak lagi utuh.
Ketika Pegawai tersebut meragukan informasi yang dia dapatkan atau merasa informasi belum bisa dipahami seutuhnya, pegawai cenderung akan mencari tahu kebenarannya untuk menghindari kesalahpahaman. Fenomena ini sejalan dengan pemikiran Karl Weick yang menyatakan bahwa individu dalam organisasi selalu berusaha mengurangi ketidakpastian melalui informasi.
Sejalan dengan teori tersebut, Gen Y membutuhkan tiga hal dalam komunikasi organisasi: keterbukaan, kejujuran, dan aksesibilitas informasi.
Pertama adalah keterbukaan. Sebagai contoh jika informasi tersebut tentang promosi atau mutasi. Ketika ada seorang pegawai Gen Y mengetahui bahwa ada pegawai “D” yang mungkin secara kinerja biasa saja namun mendapatkan promosi jabatan sementara Gen Y tersebut memiliki kompetensi yang lebih tinggi dari pegawai “D”, akan merasakan ketidakadilan. Sebagai seorang Gen Y, maka dia akan mencari tahu penyebab kenapa pegawai “D” bisa mendapatkan promosi. Jika pegawai Gen Y tidak mendapatkan penjelasan yang akurat atau informasi yang dia dapatkan tidak sesuai dengan harapannya, maka bisa membuat pegawai Gen Y tesebut demotivasi dalam bekerja. Hal ini sejalan dengan konsep keadilan organisasi dari Jerald Greenberg, yang menekankan bahwa persepsi adil atau tidaknya organisasi sangat dipengaruhi oleh sejauh mana informasi dibuka kepada pegawai.
Kedua adalah kejujuran. Gen Y menuntut kejujuran. Dengan kepiawaian mereka dalam mengakses informasi, Gen Y bisa dengan mudahnya mencari informasi dari narasumber yang lain. Mereka akan membandingkan antara informasi satu dengan informasi yang lainnya. Jika mereka mengetahui bahwa informasi yang didapatkan dari narasumber utama salah atau tidak tepat, maka bisa mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap atasan atau bahkan organisasi/Perusahaan.
Menurut Edgar Schein, budaya organisasi yang kuat dibangun dari konsistensi antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Ketika komunikasi tidak jujur, bukan hanya informasi yang dipertanyakan, tetapi juga nilai organisasi itu sendiri.
Ketiga adalah aksesibilitas informasi atau kemudahan mendapatkan informasi.
Dalam hal ini, Richard L. Daft dan Robert H. Lengel melalui Media Richness Theory menjelaskan bahwa efektivitas komunikasi sangat ditentukan oleh media yang digunakan. Informasi yang kompleks membutuhkan media yang kaya, jelas, langsung, dan mudah dipahami agar tidak menimbulkan salah tafsir.
Jika ketiga aspek ini atau salah satunya tidak terpenuhi, Pegawai akan merasa bingung karena tidak ada arahan yang jelas, merasa tidak dianggap/dipercaya, dan apabila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, Pegawai tersebut menjadi demotivasi dalam bekerja.
Komunikasi Yang Transparan Dalam Organisasi
Pegawai yang mendapatkan informasi/arahan yang jelas, keterbukaan informasi antar sesama rekan kerja atau hubungan vertikal antara bawahan-atasan yang baik, komunikasi yang efektif, biasanya cenderung mempunyai ritme kerja yang teratur dan produktif. Hal ini dikenal sebagai motivasi intrinsic, yaitu dorongan bekerja yang berasal dari dalam diri, bukan sekadar karena tuntutan/kewajiban jabatan/pekerjaan atau imbalan.
Konsep ini sejalan dengan Self-Determination Theory dari Edward Deci dan Richard Ryan, yang menjelaskan bahwa motivasi intrinsik tumbuh ketika individu merasa memiliki kendali, kompeten, dan terhubung dengan lingkungannya. Transparansi komunikasi secara langsung memperkuat ketiga hal tersebut.
Fenomena akan kurangnya transparansi komunikasi yang menyebabkan akses dalam mendapatkan informasi sulit atau tidak utuh seperti informasi tentang: promosi, penghasilan, mutasi dan lain sebagainya hampir terjadi di banyak organisasi/Perusahaan.
Dengan perkembangan teknologi di era digital saat ini, organisasi akan kesulitan membendung “aktif”-nya Gen Y dalam mengakses informasi dari berbagai sumber karena arus komunikasi sangat cepat. Oleh karena itu, transparansi komunikasi merupakan faktor yang sangat penting untuk membangun kepercayaan antar pegawai, baik hubungan vertikal maupun horizontal, khususnya di organisasi dengan birokrasi kompleks seperti PLN.
Pada akhirnya, jika organisasi ingin menjaga semangat kerja Gen Y tetap tinggi dan produktif, transparansi komunikasi harus menjadi budaya Perusahaan yang harus dipedomani oleh setiap insan pegawai. Transparansi komunikasi menghasilkan informasi yang jelas dan akurat, informasi yang jelas dan akurat membangun dan menumbuhkan kepercayaan terhadap organisasi/Perusahaan, kepercayaan yang baik terhadap organisasi menghasilkan semangat kerja yang optimal sehingga berdampak pada target kinerja organisasi/Perusahaan tercapai.





