DAILYPANGANDARAN – Siapa sangka, pesisir Pantai Pangandaran menyimpan banyak kenangan bagi warganya. Sebelum ramai menjadi destinasi wisata, kawasan pesisir selatan ini merupakan perkebunan kakao (Theobroma cacao) atau pohon cokelat.
Perkebunan kakao di pesisir Pantai Pangandaran itu berada di sepanjang Desa Pananjung hingga Wonoharjo. Jaraknya sekitar 500 meter dari bibir pantai.
Kebun kakao itu kini berdiri di atas tanah Grand Pangandaran dan telah banyak digunakan sebagai lahan perhotelan hingga vila. Bahkan, jalan pintu masuk wisata konon dulunya gelap karena dipenuhi pohon cokelat.
Selain itu, perkebunan tersebut menyimpan banyak momen bagi wisatawan maupun warga setempat. Irfan Hidayat (47), salah satu warga yang rumahnya tak jauh dari lokasi, mengenang betul masa kecilnya di kawasan itu.
“Wah dulu tempat bermainnya anak-anak disini, ya niatnya main tapi terselubung ngambil buah coklat,” ucap Irfan, belum lama ini mengutip dari detikJabar.
Menurutnya, kesan paling menyenangkan adalah saat ada turis asing berkunjung ke pabrik kakao, lalu mereka membawa permen. “Pasti kami yang kebetulan kesana pasti dikasih. Kadang souvenir,” katanya.
Irfan mengaku cinta pertamanya bersemi di antara pepohonan cokelat. “Dulu saya kalo main sama istri ke kebun coklat walaupun harus dikejar-kejar mandor perkebunan, sampai ke pesisir,” ucapnya.
Ia pun mengenang betul suasana perkebunan cokelat yang masih produktif dan menjadi bahan baku pembuatan cokelat. “Mungkin sudah sejak dulu pabrik kakao itu menyuplai bahan baku Silverqueen,” katanya.
Perkebunan kakao itu saat ini sudah banyak berganti bangunan dan jenis tanaman lain. Di sana bahkan telah berdiri bangunan sekolah yang kini menjadi SMPN 1 Pangandaran serta Lapangan Merdeka.
“Sekarang mah jadi sekolah sama lapangan merdeka. Dulu belakang situ perkebunan kakao,” katanya.
Ia bercerita bahwa area gerbang tol (toll gate) pintu masuk wisata Pangandaran saat itu masih gelap tertutup perkebunan, sebelum akhirnya dibuka jalan untuk memudahkan akses wisatawan.
Era keemasan perkebunan kakao itu hanya bertahan dari tahun 1990 hingga 2000-an. “Karena waktu krismon 1998 sudah mulai tidak produktif dan perkebunan milik PTPN itu tidak terawat,” ucapnya.
Dailypangandaran mencoba menelusuri pemegang foto perkebunan kakao dan suasana tahun 1993 yang sempat beredar di media sosial. Sebuah foto menunjukkan seorang turis asing diajak mengunjungi perkebunan kakao di Desa Pangandaran-Pananjung sekitar tahun 1993-1994.
Anak generasi 1990-an di Pangandaran mengingat momen menyenangkan, mulai dari sekadar bermain hingga memetik buah cokelat.
Sepanjang pesisir Pantai Pangandaran blok Pananjung hingga Wonoharjo dahulu dipenuhi perkebunan kakao. Bahkan, ada satu pabrik penghasil kakao terbesar yang menyuplai kebutuhan ke kota-kota besar.
Foto yang kini ramai diperbincangkan tersebut rupanya milik Masrudin, seorang pemandu wisata senior dari Pantai Pangandaran. Salah satu tokoh masyarakat Pangandaran, Agus Kusnadi, menyebutkan bahwa setelah krisis moneter, perkebunan kakao milik PTPN itu telah dikuasai oleh salah satu perusahaan.
“Bahkan tahun 1998 itu sempat mau menjadikan perkebunan itu Ancol kedua, namun keburu krismon, hingga gedeg seng yang dipasang kiri kanan jalan tol gate masuk wisata ditutup. Cuman rencana pembangunan itu batal,” ucapnya.
Menurutnya, warga setempat mengetahui jika keluarga Presiden Soeharto itu ingin membangun Ancol di Pangandaran. “Namun gak jadi karena mungkin keburu lengser. Sekarang wilayah tanahnya sudah ada yang beli sebagian,” katanya.
