DAILYPANGANDARAN – Keindahan alam dan kekayaan budaya pesisir Pangandaran kembali dipadukan dalam sebuah kegiatan kreatif bertajuk Hunting Foto Budaya Pesisir Pangandaran yang menjadi bagian dari rangkaian acara SIDAK#3 (Silaturahmi dengan Kamera). Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi antara komunitas fotografer, Komunitas Make Up Artist, pelaku seni budaya, serta pegiat pariwisata dalam upaya mengangkat budaya lokal sebagai kekuatan utama destinasi wisata daerah.
Berlatar panorama pantai dan cahaya senja khas Pangandaran, para fotografer mengabadikan pertunjukan budaya seperti kuda lumping dan tari tradisional yang dikemas secara artistik, emosional, dan estetis. Tidak hanya menjadi ajang berkarya, kegiatan ini juga diharapkan mampu menghasilkan konten visual berkualitas tinggi untuk mendukung promosi wisata Pangandaran di tingkat nasional hingga internasional.
Melalui karya fotografi yang dihasilkan, budaya pesisir Pangandaran diharapkan tampil sebagai identitas kuat yang mampu menjadi pembeda di tengah persaingan destinasi wisata modern. Konsep wisata berbasis pengalaman budaya (cultural experience tourism) menjadi potensi besar untuk menarik wisatawan yang tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga pengalaman autentik yang berkesan.
Selain menjadi ruang kreatif, kegiatan ini juga diharapkan mampu membangun ekosistem promosi budaya yang lebih luas dan berkelanjutan. Foto-foto hasil hunting budaya dapat menjadi bank visual strategis untuk promosi pariwisata daerah, mulai dari media digital, pameran, hingga interior hotel dan ruang publik yang merepresentasikan identitas Pangandaran sebagai daerah wisata budaya.
Pembina kegiatan, Hj. Ida Nurlaela Wiradinata, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat para fotografer muda dan komunitas kreatif yang terus berupaya mengangkat budaya daerah melalui karya visual.
“Budaya adalah identitas dan kebanggaan daerah yang harus terus dijaga serta diperkenalkan kepada generasi masa depan dan dunia luar. Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena para fotografer tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan promosi budaya dan pariwisata daerah,” ucap Ida, Sabtu (16/5/2026).
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berkembang menjadi agenda kreatif yang mampu menghubungkan budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat. “Ketika budaya diangkat dengan cinta dan kreativitas, maka Pangandaran akan memiliki daya tarik yang tidak hanya indah dilihat, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang datang,” ucapnya.
“Ke depan, saya berharap karya-karya fotografi budaya Pangandaran tidak hanya berhenti menjadi dokumentasi atau unggahan media sosial saja, tetapi benar-benar hadir sebagai wajah pariwisata daerah,” kataya.
Menurutnya, foto-foto budaya ini sangat layak dipasang di hotel-hotel, ruang publik, pusat informasi wisata, hingga berbagai media promosi lainnya agar setiap tamu yang datang dapat langsung merasakan identitas dan kekayaan budaya Pangandaran.
“Begitu juga dengan kesenian tradisional seperti Ronggeng Gunung, yang memiliki musik khas dan nilai budaya yang kuat. Saya membayangkan tarian ini dapat ditampilkan melalui layar LCD atau monitor di hotel-hotel dan tempat wisata, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga merasakan suasana budaya Pangandaran sejak pertama mereka datang,” ucapnya.
“Karena sesungguhnya, destinasi wisata yang kuat bukan hanya yang memiliki panorama indah, tetapi juga yang mampu menghadirkan pengalaman budaya yang membekas di hati para pengunjung,” sambung Ida.
Sementara itu, Ketua Fotografer Pangandaran, Yan Yan Yuliana, S.IP, menyampaikan bahwa fotografi memiliki peran penting dalam membangun citra dan promosi daerah di era digital saat ini.
“Bagi kami, fotografi bukan hanya tentang mengambil gambar, tetapi tentang menangkap rasa dan menceritakan jiwa sebuah tempat kepada dunia,” ucapnya.
Lewat kegiatan ini, kata Yan Yan, pihaknya ingin menunjukkan bahwa Pangandaran tidak hanya kaya akan panorama alam, tetapi juga memiliki budaya pesisir yang kuat, hidup, dan sangat layak menjadi daya tarik wisata berkelas dunia.
“Setiap foto yang dihasilkan adalah bentuk cinta kami terhadap daerah sendiri. Kami berharap karya-karya ini mampu menjadi jendela yang mengundang orang datang, mengenal budaya Pangandaran, lalu jatuh cinta dan ingin kembali,” ucapnya
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia SIDAK#3 Roni Cahyadi turut menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang fotografi, tetapi tentang membangun gerakan kreatif bersama untuk mengangkat potensi daerah.
“SIDAK#3 hadir bukan sekadar menjadi ruang berkumpulnya para fotografer, tetapi menjadi ruang kolaborasi antara budaya, kreativitas, dan pariwisata. Kami ingin menghadirkan karya-karya visual yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memiliki nilai promosi dan identitas daerah yang kuat,” ucapnya.
Kata dia, Pangandaran memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa budaya pesisir dapat dikemas secara modern, menarik, dan memiliki daya saing sebagai destinasi wisata kelas dunia,” ucap Roni.
Ia berharap, SIDAK#3 bisa menjadi langkah awal lahirnya event kreatif berkelanjutan yang mampu membawa nama Pangandaran semakin dikenal luas, sekaligus menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat lokal.
Kegiatan ini juga diharapkan menjadi awal dalam membangun ekosistem kreatif lintas daerah yang melibatkan komunitas fotografer dari Pangandaran, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Kuningan, dan Cilacap. “Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat berkembang menjadi festival budaya dan fotografi tahunan yang mampu memperkuat branding Pangandaran sebagai destinasi wisata budaya pesisir berkelas dunia,” tutupnya.
