DAILYPANGANDARAN – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menggelar serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno yang berlangsung sejak 20 Juni hingga 27 Juni 2026. Acara ini diinisiasi sebagai upaya untuk membumikan kembali pemikiran dan nilai-nilai perjuangan Presiden pertama RI, Soekarno, terutama kepada generasi muda.
Peringatan Bulan Bung Karno ini dibuka dengan kegiatan jalan santai yang diikuti oleh masyarakat umum. Selain itu, pihak penyelenggara juga menggelar turnamen bola voli antar-desa di seluruh kecamatan, serta lomba paduan suara tingkat SMA dan SMK dengan membawakan lagu-lagu bertema perjuangan Bung Karno.
Ketua DPC PDI Perjuangan, Jeje Wiradinata, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi krusial di tengah minimnya pemahaman generasi z dan milenial terhadap sosok proklamator tersebut secara personal. Apalagi, sejarah mengenai peran besar Bung Karno sempat mengalami pembatasan atau desoekarnoisasi pada masa rezim Orde Baru.
”Anak-anak muda sekarang yang berusia 17 atau 20 tahun ke bawah tentu tidak mengenal Bung Karno secara personal. Bahkan saya yang lahir tahun 1965 pun tidak mengenal sosok beliau secara utuh karena beliau wafat pada 1970,” ujar Jeje saat ditemui di sela-sela acara, Sabtu, 20 Juni 2026.
Menurut Jeje, melalui medium yang dekat dengan masyarakat seperti olahraga, kompetisi seni, dan pemanfaatan media sosial, esensi pemikiran Bung Karno sebagai bapak pemersatu bangsa dan pencetus Pancasila dapat lebih mudah dipahami oleh generasi digital saat ini.
”Sekarang orang malas membaca buku dan sebagainya. Maka dengan cara inilah, lewat media sosial dan komunikasi langsung, masyarakat bisa kembali mengenal sosok Bung Karno,” katanya menambahkan.
Persiapan Tari Kolosal Perjuangan Bung Karno
Sebagai puncak dari rangkaian edukasi sejarah ini, Jeje mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan sebuah pertunjukan seni berskala besar. Pihak panitia sedang menggarap pementasan tari kolosal yang menggambarkan linimasa perjuangan Bung Karno.
Pertunjukan seni tersebut rencananya akan dipentaskan dalam momentum peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang, dengan menggandeng sanggar seni lokal terkemuka, Sanggar Rengganis.
Jeje menekankan bahwa salah satu nilai penting Bung Karno yang ingin disoroti dalam tarian tersebut adalah sikap negarawan saat melepaskan kekuasaannya demi menghindari pertumpahan darah antarsesama anak bangsa pada masa transisi politik Orde Baru.
”Meskipun beliau saat itu menjabat sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, beliau memilih tidak melawan. Beliau lebih memilih berkorban demi bangsa dan negara. Nilai-nilai seperti ini yang harus disosialisasikan kepada masyarakat, bahwa ketika negara memanggil, kepentingan bangsa harus tegak di atas segalanya,” tutur Jeje.
Melalui pagelaran budaya yang memadukan legenda lokal Ronggeng Gunung dan sejarah nasional Bung Karno tersebut, masyarakat diharapkan dapat terus merawat memori kolektif terhadap para tokoh pemersatu bangsa.
