DAILYPANGANDARAN – Label “Managed by Sahid” yang melekat pada The Allure Villas Pangandaranrupanya belum menjadi jaminan mutlak bagi terwujudnya standar pelayanan premium. Terutama dalam pemenuhan hak paling mendasar konsumen: ketenangan. Alih-alih menyuguhkan pengalaman istirahat yang eksklusif, resor mewah di kawasan pantai Pangandaran ini justru membiarkan tamunya terjebak dalam polusi suara hingga dini hari.
Persoalan ini mengemuka setelah sebuah video yang diunggah oleh akun TikTok @bobocantikdotcom viral di media sosial. Dalam rekaman berdurasi singkat tersebut, terlihat suasana kamar vila yang gelap gulita, kontras dengan bisingnya dentuman musik dangdut bervolume tinggi yang menembus dinding kamar.
Peristiwa yang disebut terjadi hingga pukul 01.00 WIB dini hari itu langsung memicu kritik tajam dari wisatawan yang merasa hak istirahatnya dirampas.
Harga Premium, Pelayanan Minim
Informasi yang tertera dalam unggahan tersebut menegaskan betapa mahalnya harga yang harus dibayar wisatawan untuk sebuah kekecewaan. Pengunggah video mengungkapkan kekesalannya secara eksplisit.
“Bayar 2,5 juta buat stay di villa dapet kamar berisik kaya gini 😭😭😭😭 orang liburan, bayar mahal mau istirahat malah ga bisa tenang gara2 dibelakang villa ada cafe berisik sampe jam 1 malam, JAM 1 MALAM!! ‼️,” tulis akun tersebut.
Tarif Rp2,5 juta per malam seharusnya merepresentasikan kemewahan dan privasi tanpa cela. Kegagalan manajemen dalam memberikan jaminan ketenangan ini menjadi tamparan keras bagi janji pelayanan prima yang kerap diusung korporasi hotel bintang lima.
Lebih jauh, wisatawan tersebut mengungkapkan kekhawatirannya jika situasi serupa dialami oleh tamu yang membawa bayi atau lansia, di mana lingkungan yang kondusif dan tenang adalah kebutuhan mutlak untuk beristirahat.
Sikap Pasif dan Dalih Kehilangan Kendali
Sebagai pengelola reputasi sekelas Sahid, respons manajemen The Allure Villas Pangandaran dinilai sangat mengecewakan. Unggahan yang viral tersebut memperlihatkan bagaimana pihak hotel terkesan angkat tangan.
Pihak vila berdalih bahwa sumber suara berasal dari sebuah kafe independen yang beroperasional di belakang area penginapan mereka. Manajemen mengeklaim telah melakukan teguran berulang kali, bahkan mengaku telah melibatkan pemerintah daerah setempat. Namun, langkah tersebut tidak membuahkan hasil nyata.
Masalah kian pelik karena solusi operasional di tingkat internal pun buntu.
“Udah telp resepsionis pun ga ada solusi, pindah kamar ga mungkin katanya sedikit,” demikian keluhan tamu yang tertulis, mengindikasikan bahwa hotel tersebut sedang dalam kapasitas penuh (fully booked) dan tidak menyediakan ruang bagi mitigasi keluhan darurat.
Sikap pasif ini memantik sorotan tajam dari pengamat perlindungan konsumen. Sebagai penyedia jasa akomodasi komersial yang memungut biaya tinggi, The Allure Villas Pangandaran memikul tanggung jawab penuh (duty of care) atas ekosistem kenyamanan di dalam lingkungan properti mereka.
Melemparkan kesalahan murni kepada pihak ketiga tanpa adanya langkah mitigasi yang konkret—seperti kompensasi, penyediaan fasilitas peredam suara yang memadai, pemindahan kamar ke zona aman, atau tekanan hukum yang lebih agresif terhadap gangguan lingkungan—menunjukkan lemahnya manajemen krisis hotel skala global tersebut.
Taruhan Reputasi
Kasus pembiaran polusi suara ini menjadi sinyal merah bagi industri perhotelan di Pangandaran. Ketika wisatawan berani membayar mahal untuk sebuah staycation, mereka tidak sekadar menyewa kasur, melainkan membeli privasi dan ketenangan.
Ketika manajemen hotel gagal mengeksekusi jaminan tersebut secara berulang, mereka tidak hanya merugikan konsumen secara finansial dan fisik, tetapi juga mempertaruhkan reputasi korporasi yang telah dibangun puluhan tahun.
Hingga naskah ini diturunkan, redaksi sedang berupaya meminta klarifikasi resmi dari manajemen The Allure Villas Pangandaran Managed by Sahid serta perwakilan Sahid Hotels & Resorts terkait langkah konkret dan jaminan perlindungan konsumen yang akan mereka berikan agar kasus serupa tidak terus berulang dan menggerogoti kepercayaan publik.
