DAILYPANGANDARAN – Pemerintah Kabupaten Pangandaran terus mengupayakan berbagai langkah strategis guna meningkatkan angka kunjungan wisatawan. Salah satu prioritas utama yang tengah digarap adalah penguatan konektivitas wilayah melalui optimalisasi berbagai moda transportasi.
Selama ini, mayoritas wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran mengandalkan jalur darat, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Namun, durasi perjalanan dari kota besar seperti Jakarta dan Bandung dinilai masih cukup menyita waktu, yakni berkisar antara 6 hingga 9 jam.
Meskipun akses jalur udara telah tersedia untuk rute Jakarta-Pangandaran dan Bandung-Pangandaran (PP), biaya tiket pesawat dianggap masih relatif tinggi bagi sebagian besar segmen wisatawan. Hal ini menjadikan transportasi udara belum menjadi pilihan utama bagi massa luas.
Di sisi lain, layanan kereta api dari Jakarta maupun Bandung saat ini hanya menjangkau titik akhir di Kota Banjar. Untuk melanjutkan perjalanan menuju Pangandaran, wisatawan masih harus menempuh perjalanan darat tambahan selama kurang lebih 2 jam.
Aktivasi kembali jalur kereta api menuju Pangandaran menjadi solusi transportasi yang paling dinantikan publik. Namun, hingga saat ini, rencana strategis tersebut masih tertahan pada tataran wacana dan belum menunjukkan progres realisasi fisik di lapangan.
Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, mengungkapkan bahwa rencana aktivasi jalur kereta api lintas Banjar-Pangandaran sebenarnya telah digulirkan sejak periode pertama kepemimpinan kepala daerah sebelumnya.
“Sudah lama tapi masih wacana. Karena kan biayanya tidak sedikit, butuh taksiran capai Rp 5-7 triliun belum lagi jalur terowongan yang ternyata hasil analisis harus perbaikan seperti di Cikacepit dan Wihelmina,” ucap Citra.
Citra menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pangandaran telah menempuh berbagai skema untuk mempermudah akses wisatawan dari Stasiun Banjar, termasuk menjalin kemitraan strategis dengan pihak Damri. “Namun operasionalnya tidak berlangsung lama, hanya beberapa bulan berhenti karena ada penolakan dari Organda,” katanya.
Sebagai langkah alternatif untuk mengakselerasi mobilitas wisatawan, Citra menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap.
“Sudah kita komunikasi dengan Bupati Cilacap dulu. Untuk aktivasi jalur kerete api Sidareja ke Pangandaran, ternyata lebih dekat dari Banjar,” kata Citra.
Ia menegaskan bahwa koordinasi terkait pengembangan jalur Sidareja-Pangandaran akan terus diperkuat, baik melalui rencana aktivasi jalur kereta api maupun penyediaan layanan bus pengumpan (shuttle bus) dari stasiun. “Karena kalo jarak 1 jam lebih dekat,” ucapnya.
