DAILYPANGANDARAN — Aktivitas ekonomi berbasis kerakyatan di Kabupaten Pangandaran menunjukkan tren pertumbuhan yang positif sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan publikasi resmi Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Kabupaten Pangandaran Dalam Angka 2026, jumlah koperasi aktif di daerah tujuan wisata pesisir ini mencatatkan lonjakan tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Tercatat, jumlah koperasi aktif di Kabupaten Pangandaran pada 2025 mencapai 208 unit. Angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 91 unit, serta berturut-turut pada 2023 sebanyak 77 unit dan 2022 sebanyak 76 unit.
Secara keseluruhan, struktur kelembagaan koperasi konsumen di Pangandaran tercatat sebanyak 259 unit. Dari total tersebut, kategori “Koperasi Lainnya” mendominasi dengan 227 unit, disusul Koperasi Unit Desa (KUD) sebanyak 16 unit, Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) sebanyak 11 unit, Koperasi Pasar (Koppas) sebanyak 3 unit, dan Koperasi Karyawan (Kopkar) sebanyak 2 unit.
Secara kewilayahan, Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Parigi menjadi dua episentrum konsentrasi koperasi terbesar. Kecamatan Pangandaran tercatat memiliki 35 koperasi aktif dari total 48 koperasi terdaftar, diikuti Parigi dengan 33 koperasi aktif dari 39 unit terdaftar. Wilayah penyangga lainnya seperti Padaherang (28 koperasi aktif) dan Langkaplancar (23 koperasi aktif) juga memperlihatkan geliat serupa.
Dinamika Inflasi dan Daya Beli Masyarakat
Pertumbuhan kelembagaan ekonomi rakyat ini menjadi pilar penting di tengah pergerakan harga barang dan jasa sepanjang tahun 2025. Data survei harga BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) umum Pangandaran bergerak dari level 106,00 pada Januari menjadi 109,69 pada Desember 2025.
Tingkat inflasi bulanan sempat mengalami deflasi tipis pada Februari (-0,01%), namun berangsur naik stabil hingga menyentuh level 2,70% pada November dan 2,67% pada Desember 2025.
Tekanan inflasi tertinggi tercatat pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, yang mengalami lonjakan laju inflasi dari 8,15% pada awal tahun hingga mencapai 21,05% pada penutupan tahun 2025. Sementara itu, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau tetap menjadi perhatian utama kebutuhan pokok warga, dengan pergerakan inflasi berada pada kisaran 0,29% hingga 3,97% sepanjang tahun.
Melihat lanskap data tersebut, penguatan peran koperasi—khususnya Koperasi Pasar maupun KUD yang dekat dengan rantai pasok sembako—dinilai kian strategis. Koperasi diharapkan terus menjadi stabilisator distribusi kebutuhan masyarakat sekaligus bantalan ekonomi warga lokal dalam menjaga daya beli di tengah fluktuasi harga pasar.
