Berita  

Jeje Wiradinata Ungkap Peran Sang Ulama di Balik Lahirnya ‘Ajengan Masuk Sekolah’

Ketua HNSI Pangandaran
Ketua HNSI Pangandaran Jeje Wiradinata.

DAILY​PANGANDARAN – “Kalau sudah tiada, baru terasa.” Sepenggal lirik lagu Rhoma Irama tersebut menjadi ungkapan mendalam dari Mantan Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, saat mengenang sosok almarhum K.H. Otong Aminudin dalam acara peringatan Haul ke-2.

​K.H. Otong Aminudin, yang merupakan mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pangandaran, telah berpulang pada tanggal 18 November 2024. Di mata Jeje Wiradinata yang pernah memimpin Pangandaran selama dua periode, almarhum bukan sekadar tokoh agama yang religius, melainkan seorang ulama penggerak sekaligus negarawan sejati.

​Dorongan Menjadi Pemimpin dan Kebijakan Pendidikan
​Jeje mengungkapkan bahwa K.H. Otong adalah sosok penting yang mendorongnya untuk maju mengabdi sebagai Bupati Pangandaran pada masa itu. Selama masa jabatannya, almarhum selalu setia mendampingi dan memberikan masukan-masukan strategis demi kemajuan daerah.

​”Beliau yang mengajak saya ke Pangandaran jadi Bupati, mendorong saya, dan mendampingi selama saya menjabat,” ungkap Jeje. Ia menambahkan bahwa beberapa kebijakan penting, seperti program “Ajengan Masuk Sekolah,” lahir dari rumusan dan dorongan kuat sang ulama.

​Teguran Keras di Mimbar Idul Fitri

​Meski memiliki kedekatan emosional, K.H. Otong tidak pernah segan memberikan kritik tajam. Jeje mengenang satu momen yang membekas menjelang akhir masa jabatan pertamanya. Saat itu, almarhum bertindak sebagai khatib salat Idul Fitri dan secara terbuka memberikan teguran keras mengenai gaya kepemimpinan Jeje di hadapan jemaah.

​Sebagai manusia biasa, Jeje mengaku sempat tersinggung dan menemui almarhum untuk mempertanyakan mengapa teguran itu tidak disampaikan secara empat mata. Jawaban K.H. Otong saat itu sungguh di luar dugaan.

​”Kalau saya ngomong berduaan, belum tentu Aa (Jeje) ingat. Tetapi saya ingin di ruang publik agar Aa ingat,” tutur Jeje menirukan jawaban K.H. Otong. Jeje kemudian merenungkan hal tersebut dan menyadari bahwa teguran publik itu adalah bentuk kepedulian tulus agar dirinya tidak salah arah dalam memimpin.

​Garda Terdepan Saat Penutupan Tempat Remang-Remang

​Keberanian K.H. Otong juga terbukti saat Jeje menghadapi risiko hukum. Ketika Pemerintah Kabupaten Pangandaran mengambil langkah tegas menutup tempat-tempat hiburan malam atau area “remang-remang”, sempat terjadi keributan yang berujung pada pelaporan Jeje ke pihak kepolisian.

​Di momen genting tersebut, K.H. Otong Aminudin langsung mengambil komando. Ia menggerakkan seluruh ulama di Pangandaran untuk bersatu membela langkah berani tersebut. Berkat dukungan penuh itu, gejolak penutupan tempat maksiat dapat diselesaikan dengan aman dan kondusif.

​Meneruskan Perjuangan Sang Ulama

​Kepergian K.H. Otong Aminudin jelas meninggalkan kehilangan besar bagi masyarakat Pangandaran. Di akhir kenangannya, Jeje mendoakan agar iman, Islam, serta seluruh amalan almarhum diterima di sisi-Nya.

​Ia berharap segala petuah, nasihat, dan pola kebijakan yang pernah dirumuskan bersama almarhum dapat terus diimplementasikan secara berkesinambungan di Kabupaten Pangandaran.

K.H. Otong Aminudin mungkin telah tiada, namun warisan keberanian dan cintanya pada umat akan terus hidup dalam setiap kebijakan yang berpihak pada masyarakat, termasuk inisiatif Ajengan Masuk Sekolah yang telah berjalan.

Exit mobile version