DAILYPANGANDARAN – Ketergantungan ekonomi masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi perempuan dalam rumah tangga. Dalam situasi tertentu, ketimpangan tersebut membuat perempuan berada dalam posisi rentan ketika menghadapi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ida Nurlaela Wiradinata, menyoroti persoalan itu saat pengukuhan pengurus Wanoja Perjuangan Kabupaten Pangandaran di Grand Palma Pangandaran, Rabu, 28 Oktober 2026.
Melalui organisasi tersebut, Ida ingin mendorong pemberdayaan perempuan sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Banyak ketimpangan sekarang ini. Banyak sekali perempuan yang karena urusan ekonomi, mereka dianiaya oleh suaminya,” kata Ida, Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, penguatan ekonomi perempuan perlu menjadi bagian dari upaya perlindungan terhadap kekerasan. Perempuan yang memiliki kapasitas ekonomi dan akses terhadap sumber penghidupan diharapkan mempunyai posisi tawar lebih baik dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan sosialnya.
Ida mengatakan, peningkatan kualitas ekonomi perempuan telah menjadi bagian dari perhatian dan agenda perjuangannya sejak menjadi anggota legislatif. Ia ingin pemberdayaan ekonomi menjangkau lebih banyak kelompok perempuan di berbagai lingkungan masyarakat.
“Saya ingin meningkatkan kualitas perekonomiannya di beberapa lingkungan perempuan,” ujarnya.
Sekadar Organisasi Politik
Wanoja Perjuangan merupakan wadah yang lahir dari lingkungan PDI Perjuangan. Namun, Ida menegaskan bahwa kegiatan organisasi tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk kepentingan politik praktis.
“Kami tidak mengemasnya murni dengan kemasan warna merah. Organisasi ini lebih ke arah kemanusiaan,” kata dia.
Ida memandang perempuan bukan sekadar pelengkap dalam organisasi politik. Sebaliknya, perempuan harus menjadi bagian penting dari tujuan perjuangan, termasuk dalam upaya memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
“Perempuan di wadah PDI Perjuangan itu bukan sebagai pelengkap, tapi merupakan tujuan dari perjuangan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Wanoja Perjuangan dirancang menjadi ruang bagi perempuan untuk menyampaikan keluhan dan aspirasi. Organisasi ini juga diarahkan untuk terlibat dalam persoalan pendidikan, kesehatan, serta pendampingan dan advokasi hukum.
Ida mengatakan, laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Organisasi tersebut, kata dia, berupaya menampung pengaduan dan turun langsung ke daerah untuk membantu perempuan yang membutuhkan perlindungan.
“Banyak kekerasan dalam perempuan (KDRT) dan kekerasan pada anak. Itu kami tampung dan kami turun juga ke daerah-daerah untuk melindungi mereka,” katanya.
Solidaritas Sosial
Selain pemberdayaan dan advokasi, Wanoja Perjuangan juga menjalankan kegiatan sosial. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, para anggota organisasi menggelar aksi donor darah yang bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI).
Ida menyebut kegiatan tersebut dijalankan secara mandiri melalui semangat gotong royong para anggota. Kegiatan sosial itu menjadi salah satu bentuk keterlibatan organisasi dalam menjawab kebutuhan masyarakat di luar agenda politik.
Ida merupakan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Barat X, yang meliputi Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, dan Kota Banjar.
Dengan pengukuhan pengurus Wanoja Perjuangan di Pangandaran, ia berharap organisasi tersebut dapat memperluas keterlibatan perempuan dalam kegiatan sosial sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan mereka.
Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan komitmen tersebut menjadi program yang berkelanjutan, terutama dalam memperkuat kemandirian ekonomi perempuan serta memastikan korban kekerasan memperoleh pendampingan dan perlindungan yang memadai.
