PERAN MEDIA DALAM MEMBENTUK PERSEPSI PUBLIK TENTANG KRISIS SAMPAH PARIWISATA DI PANGANDARAN
Oleh: Aldi Nur Fadillah Mahasiswa Magister By Project Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Permasalahan sampah merupakan salah satu isu lingkungan yang terus menjadi tantangan besar di berbagai daerah wisata Indonesia. Pertumbuhan jumlah wisatawan yang tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah yang memadai sering kali memunculkan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran kawasan wisata hingga menurunnya kualitas ekosistem. Salah satu daerah yang menghadapi persoalan tersebut adalah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Pangandaran dikenal sebagai destinasi wisata unggulan yang setiap tahunnya menarik jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara. Tingginya kunjungan wisatawan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, namun di sisi lain juga menimbulkan tekanan besar terhadap lingkungan. Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Pangandaran menunjukkan adanya peningkatan volume sampah yang signifikan selama periode libur panjang, khususnya saat Idulfitri.
Kondisi tersebut semakin kompleks karena keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah yang tersedia. Kabupaten Pangandaran hanya memiliki satu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang harus melayani seluruh wilayah kabupaten. Selain itu, metode pengelolaan sampah yang masih didominasi sistem open dumping menyebabkan persoalan lingkungan semakin sulit diatasi.
Fenomena krisis sampah di Pangandaran kemudian menjadi perhatian media massa. Berbagai media daring memberitakan persoalan tersebut dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Perbedaan sudut pandang tersebut tidak terlepas dari proses framing yang dilakukan media dalam mengonstruksi realitas sosial.
Menurut Entman (1993), framing merupakan proses seleksi aspek-aspek tertentu dari suatu realitas yang kemudian ditonjolkan dalam teks komunikasi untuk mempromosikan definisi masalah, interpretasi sebab-akibat, evaluasi moral, dan rekomendasi penyelesaian tertentu. Dengan demikian, media memiliki kekuatan untuk membentuk cara pandang masyarakat terhadap suatu peristiwa.
Penelitian ini penting dilakukan karena media berperan besar dalam membentuk persepsi publik terhadap persoalan lingkungan. Melalui analisis framing, dapat diketahui bagaimana media lokal dan media nasional mengonstruksi isu krisis sampah di Pangandaran sehingga menghasilkan pemaknaan yang berbeda di kalangan masyarakat.
Teori Framing Robert N. Entman
Framing merupakan salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam studi komunikasi massa. Robert N. Entman menjelaskan bahwa framing melibatkan proses seleksi dan penonjolan aspek tertentu dari realitas sehingga menghasilkan interpretasi tertentu terhadap suatu peristiwa.
Model framing Entman terdiri dari empat elemen utama:
- Define Problems
Tahap ini berkaitan dengan bagaimana media mendefinisikan suatu persoalan. Media menentukan apakah suatu peristiwa dipandang sebagai masalah sosial, ekonomi, politik, atau lingkungan.
- Diagnose Causes
Media mengidentifikasi penyebab utama dari suatu masalah dan menentukan aktor yang dianggap bertanggung jawab.
- Make Moral Judgement
Media memberikan penilaian moral terhadap peristiwa dan pihak-pihak yang terlibat dalam masalah tersebut.
- Treatment Recommendation
Media menawarkan solusi atau rekomendasi untuk menyelesaikan persoalan yang sedang diberitakan.
Keempat elemen tersebut menjadi kerangka utama dalam menganalisis bagaimana media membingkai isu krisis sampah di Pangandaran.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis framing Robert N. Entman. Objek penelitian berupa pemberitaan mengenai krisis sampah di Pangandaran yang dimuat oleh media daring Tribun Jabar dan Berita Satu. Data diperoleh melalui dokumentasi artikel berita yang secara khusus membahas persoalan sampah di kawasan wisata Pangandaran. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi empat elemen framing Entman pada masing-masing berita.
Hasil dan Pembahasan
Framing Berita Satu
Define Problems
Berita Satu mendefinisikan krisis sampah sebagai dampak langsung dari ledakan jumlah wisatawan selama libur Idulfitri. Persoalan utama yang ditonjolkan adalah meningkatnya volume sampah yang menyebabkan kawasan wisata menjadi kumuh dan mengancam keberlanjutan destinasi wisata.
Diagnose Causes
Penyebab utama yang diangkat adalah tingginya jumlah wisatawan yang tidak diimbangi dengan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, sistem pengelolaan sampah yang belum optimal juga disebut sebagai faktor penyebab krisis.
Make Moral Judgement
Berita Satu menampilkan penilaian moral bahwa seluruh pihak memiliki tanggung jawab terhadap persoalan sampah. Wisatawan dianggap kurang memiliki kesadaran lingkungan, sementara pemerintah daerah dinilai belum maksimal dalam mengantisipasi lonjakan sampah.
Treatment Recommendation
Solusi yang ditawarkan meliputi peningkatan fasilitas kebersihan, edukasi wisatawan, dan penguatan kebijakan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Framing Tribun Jabar
Define Problems
Tribun Jabar mendefinisikan persoalan sampah sebagai masalah kapasitas pengelolaan yang tidak mampu mengimbangi peningkatan volume sampah saat musim liburan.
Diagnose Causes
Media ini lebih menyoroti faktor teknis seperti keterbatasan armada pengangkut, jumlah petugas kebersihan yang minim, serta kemacetan lalu lintas yang menghambat proses pengangkutan sampah.
Make Moral Judgement
Penilaian moral dalam Tribun Jabar lebih diarahkan pada perlunya evaluasi sistem pengelolaan sampah pemerintah daerah. Media ini tidak secara langsung menyalahkan wisatawan sebagai penyebab utama.
Treatment Recommendation
Solusi yang ditawarkan berfokus pada peningkatan kapasitas armada pengangkut sampah, penambahan tenaga kebersihan, dan perbaikan sistem pengelolaan sampah saat musim wisata.
Analisis Perbandingan Framing
Perbandingan kedua media menunjukkan adanya perbedaan fokus pemberitaan. Berita Satu menggunakan perspektif lingkungan yang lebih luas, sementara Tribun Jabar menggunakan perspektif administratif dan teknis.
Implikasi terhadap Persepsi Publik
Framing media berpengaruh terhadap cara masyarakat memahami persoalan lingkungan. Ketika media lebih banyak menyoroti perilaku wisatawan, publik cenderung melihat persoalan sampah sebagai masalah kesadaran individu. Sebaliknya, ketika media menekankan keterbatasan fasilitas, masyarakat akan memandang pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Dalam konteks komunikasi lingkungan, framing menjadi instrumen penting yang dapat mendorong perubahan perilaku sekaligus mempengaruhi arah kebijakan publik. Oleh karena itu, media perlu menyajikan pemberitaan yang berimbang dan komprehensif agar masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh mengenai persoalan lingkungan.
Kesimpulan
Krisis sampah di Pangandaran merupakan persoalan lingkungan yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor, mulai dari peningkatan jumlah wisatawan hingga keterbatasan sistem pengelolaan sampah. Analisis framing menunjukkan bahwa Tribun Jabar dan Berita Satu memiliki cara yang berbeda dalam mengonstruksi isu tersebut.
Berita Satu membingkai krisis sampah sebagai dampak ledakan wisatawan dan lemahnya kesadaran lingkungan, sedangkan Tribun Jabar lebih menyoroti keterbatasan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia dalam pengelolaan sampah. Perbedaan framing ini menghasilkan penekanan yang berbeda terhadap penyebab, tanggung jawab, dan solusi yang ditawarkan.
Temuan ini menegaskan bahwa media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk realitas sosial melalui proses framing. Oleh karena itu, literasi media menjadi penting agar masyarakat mampu memahami berbagai perspektif yang muncul dalam pemberitaan lingkungan.





