NGOBATAN RSUD Pandega: Kanker Serviks Mengintai Usia Muda, dr. Arieff Kustiandi Tekankan Pentingnya Skrining Dini

DAILYPANGANDARAN – RSUD Pandega Pangandaran terus memperkuat komitmennya sebagai pusat edukasi kesehatan bagi masyarakat, tidak hanya sebagai fasilitas pengobatan. Komitmen ini kembali diwujudkan melalui program rutin NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan) yang sukses diselenggarakan pada Kamis, 15 Januari 2026.

Bertempat di Ruang Tunggu Poliklinik Lantai 3, kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini berhasil menarik perhatian para pengunjung dan pasien yang sedang menunggu antrean layanan. Suasana ruang tunggu menjadi lebih hidup dan bermanfaat dengan paparan materi kesehatan yang sangat krusial bagi kaum hawa.

Mengupas Tuntas Risiko Kanker Serviks: Tidak Hanya Menyerang Usia Lanjut

Edisi NGOBATAN kali ini menghadirkan narasumber istimewa, dr. Arieff Kustiandi, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, yang mengupas tuntas topik vital: “Usia Berapa Perempuan Bisa Terkena Kanker Serviks?”

Dalam pemaparannya, dr. Arieff menjelaskan bahwa kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan salah satu pembunuh utama wanita di dunia, termasuk Indonesia. Ia menyoroti anggapan keliru di masyarakat bahwa penyakit ini hanya menyerang wanita lanjut usia. Padahal, risiko tersebut sangat berkaitan erat dengan aktivitas seksual dan paparan virus Human Papillomavirus (HPV).

“Kanker serviks tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah proses panjang dari infeksi virus hingga menjadi sel kanker. Namun, pertanyaannya, usia berapa bisa terkena? Jawabannya adalah siapa saja yang sudah aktif secara seksual memiliki risiko,” jelas dr. Arieff dalam sesi edukatif tersebut.

Secara statistik, puncak kasus kanker serviks sering ditemukan pada wanita usia produktif, yakni rentang usia 35 hingga 55 tahun. Namun, dr. Arieff juga menekankan adanya tren pergeseran ke usia yang lebih muda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh gaya hidup, seperti melakukan hubungan seksual di usia yang terlalu dini (di bawah 20 tahun) atau berganti-ganti pasangan tanpa pengaman.

“Virus HPV membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengubah sel normal menjadi kanker. Jadi, jika seorang perempuan terinfeksi di usia belasan, manifestasi kankernya bisa muncul di usia 30-an. Oleh karena itu, batasan usia bukan patokan mutlak untuk merasa aman,” tambahnya.

Pencegahan adalah Kunci: Pentingnya Skrining dan Vaksinasi

Melalui program NGOBATAN ini, dr. Arieff mengajak para wanita untuk tidak takut melakukan skrining. Ia menyarankan agar perempuan yang sudah menikah atau aktif secara seksual untuk rutin melakukan pemeriksaan Pap Smear atau IVA Test minimal setahun sekali atau tiga tahun sekali, tergantung metode yang digunakan dan risiko individu.

“Pencegahan adalah kunci utama. Jangan menunggu ada gejala seperti pendarahan abnormal baru memeriksakan diri. Vaksinasi HPV sejak dini dan deteksi rutin bisa menyelamatkan nyawa,” pungkas dr. Arieff mengakhiri sesi edukasi yang sangat informatif tersebut.

RSUD Pandega terus berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat.

Exit mobile version