Sate Ayam Kampung Yayu Ris yang Ada Sejak 1950

DAILYPANGANDARAN – Menjajal kuliner di Pangandaran tidak melulu melahap olahan ikan atau seafood. Ada sajian makan yang wajib di coba apabila datang ke destinasi wisata ini, yaitu sate ayam kampung Yayu.

Sate Ayam Kampung Yayu salah satu kuliner legendaris yang tersembunyi. Ia menempat di dalam Pasar Pananjung, Pangandaran. Jantung kota di wilayah destinasi Wisata Pangandaran.

Sejak tahun 1950an bahkan pasca kemerdekaan di Pangandaran. Sate ini sudah berjualan di pasar Pananjung oleh keluarga Sarno. 

Sate Sarno, sebutan lama untuk daging ayam dipotong kecil yang dibakar diatas arang panas. Dulu sate tersebut cukup populer di Pangandaran, dari masa ke masa secara konsisten memakai ayam kampung betina sebagai bahan utama. 

Setelah puluhan tahun berjualan, sate Sarno pun diwariskan ke puterinya bernama Yayu Ris. Putri tunggal yang mewarisi resep sate ayam kampung di Pangandaran.

Dahulu, pasar Pananjung menjadi pusat jual beli bagi menak Belanda, para pedagang hanya beralaskan tanah dengan ruko kayu dan atap daun dahon tua.

Pemandangan susasana pasar pananjung pun telah diabadikan dalam arsip Belanda, yang beruliskan Tailie, J.C./Dienst voor Legercontacton Indonisie/Wiki Commons dalam dokumen itu memperlihatkan suasana Pasar Pananjung Tahun 1943.

Pasar Pananjung Pangandaran tahun 1943

Sejak adanya pasar Pananjung itu, sate ayam kampung milik keluarga Sarno sudah tersaji untuk pengunjung yang liburan kesini. 

Namun, suasana lama itu pun belum dirasakan generasi ketiga yaitu Endang. Endang merupakan cucu dari Sarno yang kini melanjutkan usah ibunya Yuyu Ris.

Kali ini sate ini sagat populer ditelinga wisatawan dan warga loka dengan sebutan Sate Legend Yuyu Ris.

“Ibu sekarang sudah tua dan sakit-sakitan jadi saya teruskan sebagai anak tunggal,” ucap Endang (50) generasi ketiga keluarga Sumarno, Kamis (22/1/2026).

Saat mengunjungi jongko sate Yayu Ris, nampak suasana tempat berjualannya masih menarik suasana lama. Kursi meja kayu, tempat pembakaran besi dan batok kelapa hitam menyajikan aroma khas. 

Jongko dengan luas 3×4 meter itu diburu pembeli sejak pukul 06.00 WIB pagi. Sedikit kurang umum bagi penjual sate di Pangandaran yang mayoritas buka saat sore hingga malam.

Tidak sampai siang, pukul 10.00 WIB pagi apabila wisatawan lagi ramai, tempat tersebut sudah tutup lebih awal. Meski berada sedikit di dalam Pasar Pananjung, tetap memantik banyak pelanggan. 

Namun, bagi Endang berjualan di Pasar Pananjung baru terasa dan megingat suasanya sekitar tahun 1980an. 

“Kalo mulai jualan di Pasar ini seingat saya sejak 1980an hanya pindah tempat saja. Zaman kake memah sebelah barat, waktu itu disini masih kebun coklat,” kata Endang disela-sela meladeni pelanggan. 

Menurutnya, waktu itu baru renovasi pasar menjadi beberapa jongko pasar sekitar tahun 1990an baru menjadi Pasar Tradisonal Pananjung. 

“Kalo saya berarti dari kecil sampai sekarang  jualan sudah 30 tahun. Tapi kalo zaman Kake Sarno sudah sejak tahun 1950an mungkin 70 tahun lebih,” ucapnya. 

Ia mengaku menjadi generasi ketiga penerus kakenya, namun ada beberapa keponokan dan saudara yang jug melebarkan sayap. “Saya anak tunggal, tapi ponakan saya juga diizinkan buka usaha ini,” katanya. 

Meski demikian, saat ini Endang pun mengaku cabang sate ayam kampung sudah ada 4 titik.

Keempat lokasi ini berada di Pasar Pananjung, Samping Hotel MS Pantai Pangandaran, depan SMKN 1 Pangandaran dan depan terminal Budiman. 

Ia mengatakan kebanyakan pelanggan-pelanggan satenya berasal dari Bandung yang berulang datang ke Pangandaran.

“Ada tuh keluarga BHH Bandung, owner Cardinal selalu kesini. Sampaia cucunya sekarang masih kesini,” ucap dia.

Bahkan, para pengunjung di satenya menjadi incaran keluarga Tionghoa. “Banyak dari kelurga-keluarga Tionghoa kesini. Itu mungkin sejak zaman kake. Tua-tua semua,” katanya.

Secara rasa, daging ayam kampung di sate itu mempunya karakter yang khas. Meski dikenal ayam kampung dagingannya kurang empuk. Sate ayam Yuyu Ris cukup empuk. 

Endang menyebutkan salah satu yang menjadi resepnya yaitu dagingnya dimarinasi terlebih dahulu. “Kelebihanya daging di marinasi dulu, khusus pakai ayam betina, tambah acar dan gulai tulang taleng,” katanya. 

Paling khas dari sate ini, yaitu gulai tulang taleng sayur yang disajikan di meja. Tidak ada biaya tambahan untuk memakan menu tambahan tersebut. 

Secara harga sangat terjangkau, satu porsi hanya dibandrol dengan uang Rp 30.000 saja. Sudah termasuk nasi, acar, gulai ayam dan sayur. 

Saat disajikan pelanggan akan disuguhkan nasi satu piring, sate dibalut bumbu kacang dengan acar cabai ijo dan gulai. Ketiganya saat dicampur dalam sendok dan diolah dalam mulut. Gigitan pertama paling terasa bumbu kecap da marinasi ayam yang empuk. Sehingga membuat lidah berdansa lebih lama. 

Endang mengatakan, dalam sehari bisa menghabiskan 300-500 tusuk ayam kampung atau sekitar 5 hingga 10 ekor. “Atau perkiraan sebulan 150 ekor ayam kampung betina,” ucapnya.

Salah satu pelangga, Nuryani mengatakan sudah menjadi pelanggan sate Yayu Ris sejak kecil. “Karena memang sejak kecil suka, apalagi bukanya pagi aja,” katanya. 

Pelanggan lainya, Mina menyebutkan menyukai sate Yayu karena pakai ayam kampung. “Ayam kampun kan beda dengan ayam negeri. Lebih enak saja,” ucapnya.