DAILYPANGANDARAN – Penanganan tongkang pengangkut batu bara Nautica 22 yang karam di perairan Pangandaran, Jawa Barat, sejak 16 Juni 2026 hingga kini masih belum menemui kejelasan. Sudah hampir sebulan berlalu, proses evakuasi bangkai kapal maupun ribuan ton muatannya belum menunjukkan titik terang.
Mandeknya evakuasi ini mulai menyulut kecemasan masif warga pesisir, terutama para pembudidaya lobster yang menggantungkan hidup pada kelestarian ekosistem laut daerah tersebut.
Tongkang tersebut diketahui membawa muatan sebanyak 8.100 ton batu bara. Kapal sengaja dikaramkan akibat kerusakan teknis fatal demi menghindari kecelakaan yang lebih besar di tengah laut. Namun, langkah darurat itu kini menyisakan bom waktu ekologis bagi perairan Pangandaran seiring material batuan hitam yang mulai luruh dan mengendap di dasar laut.
DPRD Pangandaran: Jangan Ada Permainan Uji Lab
Lambannya respons evakuasi memantik sorotan tajam dari parlemen daerah. Anggota DPRD Pangandaran, Iwan M. Ridwan, mendesak pemerintah dan kementerian terkait untuk segera mempercepat langkah konkret di lapangan. Ia mempertanyakan keseriusan pihak berwenang dalam memitigasi dampak lingkungan ini.
“Satu, pengen ada percepatan. Dua, hasilnya jangan sampai ada permainan apa pun. Harus murni, betul-betul murni gitu,” tegas Iwan saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin, 6 Juli 2026.
Iwan mengingatkan agar seluruh proses pengujian dampak lingkungan dilakukan secara transparan tanpa intervensi. Menurutnya, taruhannya adalah kelangsungan hidup ekosistem laut dan mata pencaharian warga Pangandaran. Ia mewanti-wanti potensi adanya kongkalikong atau manipulasi data jika pengawasan melempem.
“Bahaya ini, betul-betul. Nanti pencemarannya membahayakan, tahu-tahu hasil uji labnya bisa dimainkan. Kan apa pun bisa terjadi sekarang. Jangan ada yang ‘masuk angin’,” ujar Iwan menganalogikan celah kecurangan tersebut.
Iwan juga mengingatkan dampak jangka panjang terhadap reputasi komoditas laut Pangandaran. Perairan ini, menurut dia, merupakan salah satu habitat terbaik bagi benih udang kualitas premium.
“Induk udang di perairan kita itu termasuk bibit unggulan. Jadi, jangan sampai nanti dengan kejadian ini, benih dari perairan kita dicap tercemar dan jadi tidak laku di pasaran,” kata Iwan menambahkan.
Ancaman Kontaminasi di Laut Lepas
Kekhawatiran legislatif sejalan dengan jeritan para petambak di pesisir. Meski saat ini proses budidaya lobster masih bisa disiasati dengan sistem penyaringan (filter) air, ancaman kontaminasi terhadap ekosistem laut lepas kini menjadi momok yang menakutkan bagi nelayan setempat.
Aep Saepudin, salah seorang pembudidaya lobster di Pangandaran, mengungkapkan bahwa filter air hanya mampu menyelamatkan sirkulasi di dalam area tambak. Masalah mendasar yang sesungguhnya berada di luar benteng tambak, yakni kondisi alam laut lepas yang mulai tercemar material batu bara.
“Kalau untuk air (budidaya) sebenarnya tidak ada masalah karena kami memakai saringan. Tapi yang saya khawatirkan itu batu baranya termakan oleh ikan atau udang di laut lepas,” kata Aep.
Menurut Aep, mata rantai ancaman ini akan berbalik memukul para pembudidaya saat mereka harus menjaring kembali benih udang dan lobster baru dari alam. Ada risiko besar bahwa biota laut yang ditangkap tersebut sudah telanjur mengonsumsi material batu bara yang mengendap di perairan.
“Udang atau ikan dari laut yang ada di lokasi tersebut kan bisa jadi sudah makan batu bara. Jadi ketika nanti kami tangkap untuk budidaya baru, tubuhnya dikhawatirkan sudah mengandung bahan-bahan berbahaya. Kekhawatiran kami lebih ke dampaknya di masa depan,” tambahnya masygul.
Desakan Evakuasi Total
Hingga laporan ini diturunkan, material batu bara dari tongkang Nautica 22 dilaporkan masih menghampar di beberapa titik dasar perairan Pangandaran tanpa ada tanda-tanda pengerukan.
Menanggapi situasi yang berlarut-larut ini, komunitas nelayan dan pembudidaya mendesak perusahaan pemilik kapal serta otoritas terkait untuk segera melakukan tindakan pembersihan secara total sebelum wilayah tangkapan mereka rusak permanen.
Aep menyebutkan, salah satu upaya konkret yang harus segera diambil adalah melakukan penyedotan sisa-sisa batuan hitam tersebut langsung dari dasar laut.
“Kemarin saya sudah rundingkan dengan sesama petambak, harapannya limbah batu bara yang masih menghampar di laut itu segera disedot dan dibersihkan seluruhnya,” pungkas Aep.
