DAILYPANGANDARAN – Di sebuah ruangan sederhana di Pangandaran, Selasa (8/9/2026), puluhan pelaku UMKM duduk sambil menatap layar ponsel. Bukan untuk scroll media sosial. Mereka sedang belajar memerintah “asisten magang” baru: Aftrical Intelligence atau AI.
Pelatihan ini digagas Rumah BUMN by BNI bekerja sama dengan BPC HIPMI Pangandaran. Temanya sederhana tapi menohok: “Pemanfaatan Tools AI pada Gemini”. Tujuannya satu, mendorong UMKM Pangandaran naik kelas.
“AI sekarang dekat sekali dengan kita. Modalnya cuma HP dan data internet,” buka Aldi Nur Fadillah, Ketua Bidang I OKK BPC HIPMI Pangandaran, yang juga pemilik brand Eggsperience, saat menjadi pemateri.
Bagi Aldi, AI bukan dewa yang bisa menciptakan segalanya. Ia menyebutnya asisten. Asisten yang nurut, cepat, tapi tetap butuh arahan.
“AI itu bukan pengganti keputusan. Dia asisten magang. Kita yang ngasih perintah. Kalau prompt-nya benar, hasilnya akan membantu kerjaan kita jadi efektif,” jelasnya.
Selama pelatihan, para peserta tidak hanya duduk mendengar teori. Mereka langsung praktik. Dari nol, mereka diajarkan membuat logo usaha, menyusun panduan logo, mendesain poster produk, bahkan membuat junggle suara untuk merek mereka sendiri.
“Bayangkan, UMKM gorengan di Cijulang sekarang bisa punya jingel sendiri. Dulu harus sewa studio. Sekarang cukup minta tolong AI,” ujar Aldi sambil menunjukkan contoh hasil di layar.
Tapi Aldi juga melempar peringatan. AI itu seperti pisau. Tajam, tapi bisa melukai kalau salah pakai. Ia mengingatkan agar hasil dari AI tidak langsung ditelan mentah-mentah.
“Gunakan AI sebagai referensi pihak ketiga. Harus divalidasi. Karena AI bisa salah juga. Kita tetap yang pegang kendali,” tegasnya.
Antusiasme peserta terlihat. Ada ibu-ibu penjual batik, bapak-bapak pengelola homestay, hingga anak muda yang jualan makanan online. Mereka mencatat, bertanya, dan mencoba berulang kali sampai perintah ke AI bisa mengeluarkan gambar yang mereka mau.
Manager Rumah BUMN by BNI, Iyan Arianto, mengatakan pelatihan ini adalah pintu masuk. Dalam sepekan ke depan, masih ada dua materi lagi: branding dan pembuatan logo.
“Kami ingin BNI jadi mitra UMKM. Bukan hanya soal pinjaman, tapi juga soal naik kelas. Salah satunya dengan membuat UMKM Pangandaran melek digital,” kata Iyan.
Ia berharap, setelah pelatihan ini, para pelaku usaha tidak lagi takut dengan teknologi.
“Perkembangan AI tidak menunggu kita. Dia berkembang setiap detik. Kalau kita tidak ikut, kita yang ketinggalan,” ujarnya.
Sore itu, saat pelatihan selesai, beberapa peserta masih bertahan. Mereka mencoba lagi dan lagi memasukkan _prompt_ ke Gemini. Mencoba membuat caption, membuat ide konten, membuat desain.
Mungkin hasilnya belum sempurna. Tapi satu hal pasti: di Pangandaran, cara jualan sudah mulai berubah. Dari mulut ke mulut, kini dibantu oleh asisten magang bernama AI.
