DAILYPANGANDARAN- Riuh rendah suara warga memecah keheningan bantaran sungai di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.
Hari itu, ratusan pasang mata tertuju pada sosok Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak yang melangkah mantap meninjau sisa rangka Jembatan Pongpet—jembatan perintis yang beberapa waktu lalu anjlok dan menyisakan kecemasan bagi mobilitas masyarakat.
Di lokasi, tumpukan material konstruksi telah tersusun rapi, menandai babak baru dimulainya pemulihan akses vital tersebut. Jembatan gantung sepanjang 64 meter ini bukan sekadar lintasan baja semata, melainkan urat nadi penghubung warga Dusun Cidawung, Margajaya, dan Margacinta di wilayah Kecamatan Cijulang serta Kecamatan Parigi. Rencananya, struktur penghubung ini bakal disulap menjadi konstruksi permanen.
Berdasarkan papan informasi proyek di titik pengerjaan, rancangan anggaran biaya (RAB) perbaikan menyeluruh ini menelan dana senilai Rp 528.752.000.
Di hadapan awak media dan kerumunan warga, Jenderal Maruli tidak mengelak dari realitas kerusakan yang terjadi. Dengan nada terbuka dan lugas, pimpinan tertinggi TNI AD itu melontarkan permohonan maaf atas kegagalan teknis sebelumnya, sembari menjanjikan perbaikan menyeluruh demi keselamatan warga.
“Secara pertanggungjawaban saya mohon maaf atas kejadian ini, tapi kami akan segera perbaiki dan saya kira jadi evaluasi kita supaya kita nanti bisa membuat yang lebih baik dan lebih aman nanti kedepannya,” kata Maruli, Senin (14/9/2026).
Kiprah TNI AD dalam meretas keterisolasian daerah terpencil mencatat rekam jejak panjang. Sedikitnya 3.400 jembatan telah dibangun di seantero Nusantara, mulai dari tipe Bailey, Armco, jembatan beton, hingga jembatan gantung. Dari total inventarisasi tersebut, lebih dari 1.000 unit atau sekitar 30 persen di antaranya merupakan jembatan gantung yang dihadirkan sebagai solusi cepat keterbatasan fiskal daerah.
Pembangunan Jembatan Pongpet sendiri digulirkan melalui mekanisme swakelola tipe 2 dengan pola padat karya—sebuah skema yang merangkul keringat dan partisipasi warga lokal secara langsung.
“Kenapa kita membuat jembatan gantung karena terlalu mahal untuk membuat jembatan beton. Kalau pemdanya punya uang ya silakan bikin beton. Tapi ini kan perintis untuk emergency masyarakat,” jelasnya.
Kini, hitung mundur pemulihan jembatan resmi dimulai. Tim teknis TNI AD mengambil keputusan bulat untuk merombak total struktur dari titik dasar demi menjamin ketahanan dan faktor keamanan jembatan jangka panjang. Pengerjaan proyek pun digenjot tanpa henti, bergulir siang dan malam dengan target penyelesaian tuntas dalam rentang dua bulan.
Insiden anjloknya Jembatan Pongpet kini beralih menjadi panggung kolaborasi nyata antara TNI, kepolisian, pemerintah daerah, dan warga. Di atas bentang 64 meter itu, gotong royong kembali dirajut demi memastikan derap langkah masyarakat Cijulang dan Parigi tak lagi terputus.
Post Views: 88