Berita  

Merajut Harapan di Balik Dinding Lapuk: Sentuhan Kemanusiaan TMMD Kodim Pangandaran

DAILYPANGANDARAN – Suara ketukan palu dan hantaman linggis bergemerincing memecah keheningan Dusun Pasir Peteuy, Desa Mekarwangi,Kecamatan Langkaplancar, Senin (2/11/2026). Di bawah terik matahari pagi, lembaran demi lembaran dinding kayu yang lapuk dan genting yang rapuh perlahan diturunkan.

Hari itu, derap langkah Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 0625/Pangandaran bersama warga setempat melebur dalam satu misi kemanusiaan: membongkar Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) milik Bapak Hadnan sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih layak.

Bagi Hadnan dan keluarganya, rumah tersebut selama ini menjadi saksi bisu perjuangan hidup di tengah keterbatasan.Dinding yang mulai doyong dan atap yang bocor tatkala hujan turun menyisakan kekhawatiran tersendiri setiap kali cuaca buruk melanda kawasan perbukitan Langkaplancar.

Namun, kecemasan itu kini perlahan diurai oleh uluran tangan para prajurit loreng. Pembongkaran ini bukan sekadar merubuhkan bangunan lama, melainkan membentangkan fondasi baru bagi asa yang sempat redup.

Komandan Satgas TMMD ke-130 Kodim 0625/Pangandaran, Letkol Inf Eko Novandy Saputro, S.I.P., menegaskan bahwa program rehabilitasi Rutilahu ini merupakan wujud nyata pengabdian dan kehadiran negara di tengah-tengah kesulitan masyarakat.

“Melalui program ini, kami ingin memastikan warga penerima manfaat dapat memiliki hunian yang tidak sekadar kokoh secara fisik, tetapi juga membawa rasa aman, nyaman, dan martabat bagi kualitas hidup mereka,” ujar Letkol Inf Eko Novandy Saputro.

Di lokasi, pemandangan hangat tersaji nyata. Personel TNI dan warga bahu-membahu membersihkan puing-puing bangunan lama, bergotong-royong meratakan tanah dan menyiapkan kerangka baru tanpa sekat jarak. Di atas reruntuhan gubuk tua milik Bapak Hadnan, semangat gotong-royong kembali bernyawa—membuktikan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang merawat asa dari pelosok desa.

Exit mobile version