DAILYPANGANDARAN – Ratusan warga Kabupaten Pangandaran memilih untuk bekerja ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) sepanjang tahun 2025. Fenomena ini dilatarbelakangi oleh minimnya lowongan pekerjaan yang tersedia di daerah setempat.
Menjadi PMI dianggap sebagai alternatif utama untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Pangandaran, tercatat sedikitnya 255 warga telah berangkat ke luar negeri selama tahun 2025.
Kepala Bidang Penempatan Perluasan Kerja, Transmigrasi, dan Pelatihan Produktivitas Disnaker Pangandaran, Tatik, membenarkan data tersebut. Ia menyebutkan bahwa para pekerja ini tersebar di 10 negara tujuan.
“Negara tujuannya meliputi Malaysia, Singapura, Hong Kong, Brunei Darussalam, Korea Selatan, Jepang, Polandia, Taiwan, Bulgaria, dan Arab Saudi,” ungkap Tatik, Jumat (20/2/2026).
Melihat data Disnaker, Taiwan menjadi destinasi favorit dengan jumlah 94 orang, disusul Singapura sebanyak 66 orang. Peringkat ketiga adalah Malaysia dengan 58 orang, dan Hong Kong sebanyak 42 orang.
Tatik menjelaskan, saat ini terdapat 87 perusahaan penyalur PMI yang beroperasi di wilayah Kabupaten Pangandaran. Namun, ia menyayangkan masih banyak warga yang nekat berangkat melalui jalur ilegal atau nonprosedural.
“Kami biasanya baru mengetahui keberadaan mereka saat muncul masalah, seperti ketika ingin pulang ke Indonesia. Dalam kondisi tersebut, kami pasti berusaha membantu proses pemulangannya,” jelasnya.
Sepanjang tahun 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran mencatat telah memulangkan dua orang PMI karena alasan sakit dan kendala lainnya.
“Terkait kasus TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) seperti di Kamboja, alhamdulillah untuk warga Pangandaran tidak ada. Kebanyakan masalah yang muncul berkaitan dengan beban kerja dan kesehatan. Mayoritas yang bermasalah adalah PMI ilegal,” tambahnya.
Lebih lanjut, Tatik memaparkan bahwa mayoritas PMI asal Pangandaran adalah perempuan. Sebagai contoh di Taiwan, dari total 94 orang, sebanyak 77 orang merupakan perempuan, sementara laki-laki hanya berjumlah 17 orang.





