Kisah Pilu Peternak di Cimerak: Tabungan Pendidikan Anak Hilang Usai Sapi Masuk Jurang

Screenshot

DAILYPANGANDARAN – Orang tua yang tinggal di perkampungan biasanya memiliki cara unik dalam menabung. Salah satunya adalah dengan memelihara hewan ternak seperti sapi dan kambing sebagai bentuk investasi jangka panjang.

Cara menabung tradisional ini tak lepas dari perjuangan para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke bangku kuliah. Banyak orang tua di desa yang berhasil mengantarkan putra-putrinya meraih gelar sarjana berkat ketekunan mereka dalam menekuni usaha hewan ternak.

Namun, kisah pilu dialami oleh Eman Rukmana (46), warga Desa Cicadap, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Hewan ternak sapi yang telah dirawatnya bertahun-tahun sebagai tabungan biaya kuliah sang anak, justru berakhir tragis.

Eman telah susah payah merawat dua ekor sapinya selama beberapa tahun terakhir. Rencananya, kedua sapi tersebut akan dijual saat anaknya mulai masuk perguruan tinggi.

Namun takdir berkata lain, satu dari dua ekor sapi miliknya mati setelah terperosok ke dalam lubang gua. Peristiwa bermula pada Minggu (1/3/2026) pagi, saat Eman menyadari kedua sapinya hilang dari kandang. Saat hendak memberi makan ternaknya, ia mendapati kondisi kandang sudah rusak seperti bekas didobrak paksa dari dalam.

Eman kemudian mengikuti jejak kaki sapi yang mengarah ke area hutan di wilayah Cimerak. Awalnya, ia menduga sapinya hanya kabur.

Namun pada siang harinya, Eman terkejut bukan main saat menemukan kedua sapinya terperosok ke dalam jurang sempit berbentuk gua di lereng bukit Cicadap.

“Dari awal saya curiganya sapi kabur, bukan dicuri,” ucap Eman, Senin (2/3/2026).

Sapi-sapi tersebut terjun bebas ke dalam lubang gua sedalam kurang lebih 15 meter. Struktur gua tersebut cukup unik sekaligus berbahaya, bagian atasnya sempit seperti celah yang tertutup semak, sementara bagian bawahnya lebih lega membentuk rongga.

Kondisi ini membuat sapi yang terperosok tidak mampu memanjat kembali ke permukaan. Proses evakuasi berlangsung dramatis dengan peralatan seadanya. Warga berupaya menarik sapi menggunakan katrol (crane) di medan yang sempit dan licin.

Satu ekor sapi berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup, namun nahas, satu ekor lainnya mati di dalam gua sebelum sempat diangkat ke atas.

Kerugian yang dialami Eman bukan sekadar materi. Dua sapi tersebut adalah harapan yang ia siapkan untuk masa depan pendidikan anaknya. “Itu sebenarnya untuk biaya sekolah anak saya nanti,” katanya.

Untuk menutup sebagian kerugian, Eman akhirnya menyembelih sapi yang mati tersebut dan menjual dagingnya kepada warga sekitar agar nilai ekonominya masih bisa terselamatkan.