Ketua HNSI Pangandaran Soroti Kelangkaan Lobster Jumbo Efek Benur

Ketua HNSI
Ketua HNSI Pangandaran Jeje Wiradinata. Dok Instagram @jejewiradinata

DAILYPANGANDARAN – Lobster berukuran jumbo kini mulai sulit ditemukan di perairan Pangandaran. Padahal, pesisir selatan Jawa Barat ini dulunya dikenal sebagai “gudang” lobster berukuran raksasa.

Kelangkaan krustasea bernilai tinggi itu dipicu oleh maraknya penangkapan benih lobster (benur). Kondisi memprihatinkan ini diungkapkan oleh Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran, Jeje Wiradinata.

Mantan Bupati Pangandaran dua periode tersebut mengungkapkan, sejak 13 tahun lalu, lobster berukuran jumbo mulai mengalami kelangkaan akibat eksploitasi benur yang masif.

“Pagi tadi saat ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk cek jual beli ikan, kebetulan sebagai ketua KUD. Setelah sekian lama saya baru lagi menemukan lobster jumbo berjenis mutiara dengan bobot 1 kilogram,” ucap Jeje saat ditemui di TPI Cikidang.

Menurutnya, lobster jenis mutiara saat ini sudah sangat langka dan semakin sulit ditemukan di perairan Pangandaran. Ia menyayangkan hilangnya potensi ekonomi besar di balik kelangkaan tersebut.

Kondisi ini terjadi akibat ketidaksabaran nelayan yang lebih memilih menangkap benur, padahal lobster ukuran jumbo memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Jeje membandingkan nilai ekonomis antara lobster muda yang diperkirakan baru berusia enam bulan dengan lobster dewasa yang dibiarkan tumbuh di habitat aslinya.

Nilai Ekonomi Tinggi dari Lobster Jumbo

Jeje memaparkan, lobster muda berukuran kecil yang marak ditangkap saat ini hanya laku dijual sekitar Rp300.000 per kilogram, yang umumnya berisi hingga lima ekor. Angka tersebut berbanding terbalik dengan nilai jual seekor lobster mutiara dewasa yang harganya dapat menembus Rp1.050.000 per kilogram.

“Coba bayangkan, kalau baby lobster ini tidak disakiti dan dibiarkan hidup hingga besar seperti ini, maka uang yang didapatkan nelayan akan berkali-kali lipat. Satu ekor saja bisa sejuta lebih,” tuturnya.

Krisis Ekologi Pesisir

Selain menimbulkan kerugian ekonomi, penangkapan benur secara serampangan juga menjadi alarm bahaya bagi ekologi laut Pangandaran. Jeje mengenang masa lalu ketika ekosistem pesisir belum tereksploitasi, di mana nelayan dapat membawa pulang tangkapan melimpah dengan sangat mudah.

“Di zaman saya kecil, bapak saya mencari lobster itu dapatnya bisa sampai satu kuintal atau 30 kilo. Dulu uang Rp 60.000-Rp 70.000 itu sudah sangat besar,” kenangnya.

Kini, kondisi berbalik 180 derajat. Alih-alih mendapatkan puluhan kilogram, nelayan mulai kesulitan walau sekadar untuk menemukan bibit lobster. “Sekarang, mencari benur saja takut tidak ada barangnya. Susah,” tambah Jeje.

Minta Tindakan Tegas Pemerintah

Melihat situasi di lapangan, Jeje menilai bahwa imbauan lisan tidak lagi cukup untuk mengurai benang kusut permasalahan ini. Ia menegaskan perlunya regulasi ketat dan intervensi nyata dari pemerintah daerah serta institusi berwenang.

“Kita memberikan pemahaman seperti ini ke nelayan memang susah. Jadi saya bilang, ini adalah tugas pengambil kebijakan di daerah, para pemegang aturan,” tegasnya.

Jeje menutup kunjungannya dengan pesan reflektif. Ia meyakini bahwa kunci kesejahteraan nelayan sejatinya terletak pada keberlanjutan pelestarian alam.

“Kalau semuanya bersinergi menjaga lingkungan dan laut kita, baby lobster ini tidak ditangkap secara serampangan, hasilnya pasti akan menyejahterakan nelayan kita sendiri,” pungkasnya.

Exit mobile version