Berita  

Mahasiswa IPB Sulap Limbah Ikan Jadi Silase

DAILYPANGANDARAN – Limbah ikan yang selama ini berpotensi menjadi sumber pencemaran lingkungan dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai. Hal tersebut diperkenalkan melalui kegiatan pembuatan Silase Fermentasi Ikan yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKNT IPB bersama masyarakat Desa Cijulang, Kabupaten Pangandaran, pada Senin (27/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Desa Cijulang ini diikuti oleh mahasiswa KKN dari UIN SAIZU Purwokerto dan ISBI Bandung serta masyarakat Desa Cijulang, khususnya ibu-ibu perwakilan dari Dusun Ciwaru, Haurseah, Kalenwadas, Barengkok, dan Nusagede.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya memanfaatkan potensi perikanan sekaligus mengurangi limbah hasil perikanan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui proses fermentasi, ikan maupun limbah hasil pengolahan perikanan dapat diolah menjadi silase yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan alternatif maupun pupuk organik.

Menurut PIC program kerja, Yulfi, silase merupakan salah satu olahan fermentasi yang dapat dibuat dari ikan utuh maupun limbah hasil olahan perikanan.

“Silase adalah salah satu olahan fermentasi yang terbuat dari ikan utuh atau limbah hasil olahan perikanan. Silase ini merupakan jenis fermentasi cair yang memerlukan bantuan proses bakteri asam laktat,” jelas Yulfi.

Diolah Melalui Proses Fermentasi

Dalam praktiknya, peserta terlebih dahulu membersihkan, memotong, dan menghaluskan ikan. Ikan yang telah halus selanjutnya dicampurkan dengan larutan molase hingga tercampur merata. Setelah itu, campuran dibagi menjadi dua perlakuan untuk melihat perbedaan proses fermentasi, yaitu perlakuan dengan penambahan starter dan perlakuan tanpa penambahan starter.

Campuran tersebut kemudian diaduk hingga homogen sebelum dimasukkan ke dalam botol berukuran 250 mililiter. Selanjutnya, silase disimpan dalam kondisi tertutup di tempat kering dengan suhu yang stabil.

Untuk memantau proses fermentasi, peserta juga diperkenalkan dengan pengukuran pH pada hari ke-0, ke-3, dan ke-7. Proses fermentasi tidak langsung menghasilkan produk yang dapat digunakan. Silase perlu melalui proses fermentasi hingga hari ke-14 sebelum dapat dimanfaatkan.

Proses tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai silase, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik secara langsung dalam mengolah bahan perikanan menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai

Pengolahan silase ikan menawarkan sejumlah keunggulan, di antaranya proses fermentasi yang relatif cepat, membantu mengurangi bau tidak sedap, mengawetkan limbah ikan secara alami, serta memiliki biaya produksi yang relatif rendah.

Produk silase yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk ternak, seperti unggas dan ikan budidaya, maupun dikembangkan sebagai pupuk organik cair. Pemanfaatan tersebut sekaligus membuka peluang untuk mengurangi limbah hasil perikanan dan meningkatkan nilai tambah sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat.

Bagi masyarakat Desa Cijulang, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk memperoleh keterampilan baru dalam mengolah hasil perikanan. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat mendukung pemanfaatan potensi lokal sekaligus membuka peluang pengembangan produk yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Sebagai pendukung kegiatan, peserta juga memperoleh infografis sebagai panduan praktik pembuatan silase ikan. Selain itu, kegiatan menghasilkan prototipe unit produksi silase ikan skala rumah tangga yang dapat menjadi contoh untuk pengembangan produksi secara sederhana di tingkat masyarakat.

Mendorong Pemanfaatan Potensi Lokal

Melalui kegiatan Silase Fermentasi Ikan, mahasiswa KKNT IPB bersama masyarakat Desa Cijulang tidak hanya belajar mengenai proses fermentasi, tetapi juga melihat kembali potensi yang selama ini berada di sekitar mereka.

Pemanfaatan limbah ikan menjadi silase menjadi salah satu langkah sederhana dalam mendukung sistem perikanan dan budidaya yang lebih berkelanjutan. Limbah yang sebelumnya berpotensi terbuang dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai tambah.

Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat, termasuk melalui pengembangan produk bersama kelompok masyarakat atau UMKM serta pelaksanaan pelatihan lanjutan. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan KKN, tetapi dapat terus dimanfaatkan untuk mendukung kemandirian dan perekonomian masyarakat Desa Cijulang.

Exit mobile version