DAILYPANGANDARAN — Tingginya tingkat sedimentasi di kawasan perairan Majingklak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, memicu kekhawatiran akan ancaman bencana banjir. Merespons aspirasi masyarakat dan rekomendasi pemerintah daerah, Anggota DPR RI terpilih, Ida Nurlaela Wiradinata, turun langsung meninjau operasional kapal pengeruk di lokasi tersebut.
Dalam tinjauan lapangan tersebut, Ida Nurlaela didampingi oleh Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Asep Noordin. Dirinya menyoroti ketimpangan yang besar antara volume endapan lumpur dengan kapasitas pengerukan yang tersedia saat ini. Berdasarkan data yang dihimpun, sedimentasi di kawasan tersebut telah mencapai angka yang sangat masif, yakni sekitar 1,2 juta meter kubik, sementara kemampuan alat yang beroperasi sangat terbatas.
“Sedimentasi yang ada di daerah ini sekitar 1,2 juta kubik, tapi (kemampuan alat) hanya bisa mengeruk sekitar 500 kubik,” ujar Ida saat memantau langsung proses penyedotan lumpur dari atas kapal pengeruk.
Saat ini, upaya penanganan lumpur di perairan tersebut hanya ditopang oleh dua unit kapal pengeruk yang dioperasikan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy. Dari dua armada tersebut, satu unit beroperasi di wilayah Jawa Barat dan satu unit lainnya bersiaga di wilayah Jawa Tengah. Menurut Ida, jumlah tersebut sangat tidak ideal untuk menangani volume endapan yang kian hari kian menumpuk.
Sebagai langkah antisipasi yang cepat, pihaknya akan segera mengajukan usulan resmi kepada pemerintah pusat agar memberikan intervensi berupa penambahan armada kapal pengeruk. Ia menilai pengerukan harus dilakukan secara total agar hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.
“Maka dari itu, kita akan mengusulkan kembali ke pemerintah pusat. Jika program pengerukan ini dilakukan oleh BBWS, kami ingin hasilnya maksimal. Kapal pengeruknya idealnya ditambah menjadi tujuh unit agar pengerjaan bisa optimal,” tuturnya.
Ida menegaskan bahwa pengerukan sedimentasi ini bukan sekadar proyek infrastruktur rutin, melainkan langkah vital dalam mitigasi bencana. Sedimentasi yang terus menyempitkan dan mendangkalkan aliran sungai membuat daya tampung air menurun drastis saat intensitas hujan tinggi.
“Kalau pengerukan sedimentasi ini tidak segera diselesaikan, kawasan ini akan rawan banjir. Normalisasi ini penting agar sungai minimal bisa menampung semua volume atau debit air yang masuk ke sini,” kata Ida menegaskan.





