DAILYPANGANDARAN – Bagi sebagian pemuda, menjadi petani saat ini seolah kuno dan tidak bergengsi. Namun, Kusnandar (28) justru memilih menyulap lahan kosong di rumahnya menjadi tanah produktif.
Kusnandar membangun kebun selada mini dengan metode hidroponik. Aktivitas itu baru dimulainya sejak 2025 kemarin, saat kehadiran program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat komoditas sayuran mulai dilirik.
Melihat peluang tersebut, Kusnandar memanfaatkan halaman belakang rumahnya menjadi kebun selada. Belajar secara otodidak melalui YouTube, ia merintis usahanya dari satu papan hidroponik.
Melalui kelompok Taruna Tani Mekar Bayu, Kusnandar mengajak pemuda setempat untuk melek dunia pertanian, salah satunya melalui sistem hidroponik.
Budidaya selada menjadi fokus penanaman saat ini lantaran permintaan pasar lokal yang cukup tinggi.
“Alasan menanam seladah dengan sistem hidroponik karena metode ini dinilai lebih efisien ramah lingkungan dan mampu menghasilkan produk yang lebih bersih segar serta berkualitas tinggi,” ucap Kusnandar, Kamis (23/4/2026).
Tak heran, kata dia, jika permintaan sayuran selada hidroponik miliknya diburu dapur dan pedagang pasar. “Karena bagus kualitasnya dan tidak terlalu banyak yang dibuang,” katanya.
Ia mengaku, pada awal merintis, dirinya sempat kesulitan mencari pembeli karena masalah kepercayaan dan belum banyak yang tahu. “Dulumah buat kebutuhan sendiri, paling yang beli tetangga,” ucapnya.
Namun, setelah beberapa bulan mencoba menawarkan ke dapur MBG, produknya diterima dan ia diminta memproduksi lebih banyak. “Setelah itu saya bangun kelompok tani biar pemberdayaan warga setempat,” katanya.
Ia menambahkan, dalam satu hari, produksi dari lahan yang ada saat ini mencapai lebih dari satu kuintal selada. “Alhamdulillah sekali kirim kelompok kami bisa mencapai 1 kwintal, dengan masa panen sehari sekali, karena usia sebidang hidroponiknya beda-beda bisa tiap hari panen,” terangnya.
Menurutnya, permintaan pasar dalam sehari mencapai dua kuintal, namun ia baru sanggup memenuhi satu kuintal.
Dari hasil penjualan, kata Kusnandar, uang penghasilan digunakan untuk pengembangan kebun. “Perbaikan-perbaikan fasilitas hidroponik dan honor kelompok, kita bagi hasil rata,” katanya.
Ia mengajak masyarakat agar tidak terpenjarakan oleh situasi dan mau melakukan pekerjaan apa pun dengan ikhlas. “Karena saya pikir, kita tidak akan tahu usaha mana yang kita kerjakan dan membawa keberkahan,” ucapnya.
Secara kasat mata, daun selada yang dihasilkan melalui sistem hidroponik tampak segar dan bersih karena tidak menyentuh tanah dan hanya menggunakan media tanam. Setidaknya, ada dua green house yang kini dikelola oleh delapan orang warga lokal di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.
Untuk menambah pendapatan bulanan, ia bersama kelompoknya mulai mengembangkan budidaya anggur, tomat, dan timun secara hidroponik.



