Dunia kini menahan napas, menanti hari Senin saat lantai bursa dibuka. Florian Weidinger, Chief Investment Officer Santa Lucia Asset Management, menyebut skalanya tak tertandingi. “Ini jelas memiliki dampak yang lebih besar daripada Venezuela,” ujarnya kepada CNBC. Ia memprediksi harga minyak akan mendaki tajam dalam hitungan hari.
Titik Cekik Dunia Jika Venezuela adalah soal gangguan produksi di hulu, Iran adalah soal “nadi” distribusi. Di sana ada Selat Hormuz—celah sempit antara Oman dan Iran yang menjadi jalur bagi sepertiga minyak dunia yang dikapalkan lewat laut.
Data Kpler mencatat, sepanjang 2025, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melintasi selat ini. Itu setara dengan 31% aliran global. “Venezuela adalah kisah tentang produksi. Iran adalah kisah tentang titik hambatan (choke point),” kata Kenneth Goh, Direktur Manajemen Kekayaan Pribadi di UOB Kay Hian Singapura.
Pasar memiliki memori kolektif yang kuat. Pada Juni 2025, saat Israel menyerang situs nuklir Iran, bursa saham sempat terjun bebas sebelum akhirnya pulih setelah Selat Hormuz dipastikan tetap aman. Namun kali ini, pertaruhannya jauh lebih besar.
Emas dan Dolar Jadi Pelarian Di tengah ketidakpastian, naluri investor selalu sama: mencari perlindungan. Kenneth Goh memperkirakan akan terjadi eksodus besar-besaran ke aset aman (safe haven). Dolar AS dan Yen Jepang diprediksi menguat, sementara emas bakal diburu habis-habisan.
Prediksi lebih tajam datang dari Alicia García-Herrero, ekonom utama Natixis untuk Asia-Pasifik. Ia membayangkan Senin esok sebagai hari yang “merah” bagi bursa saham global.
-
Ekuitas Global: Diprediksi rontok 1% hingga 2%.
-
Harga Minyak: Berpotensi melonjak 5% hingga 10%.
-
Surat Utang AS: Imbal hasil (yield) diperkirakan turun 5 hingga 10 basis poin karena investor berebut membeli obligasi pemerintah.
“Jangan bertaruh pada aset yang berisiko,” pesan Alicia singkat. Bagi para pemain pasar, nasihatnya cuma satu: tunggu sampai Teheran memberikan reaksi. Sebelum fajar menyingsing di hari Senin, dunia hanya bisa berharap Selat Hormuz tidak menjadi “pintu” yang dikunci rapat oleh amarah Iran.

