Menyesap Harmoni Kuliah di Pesisir Pangandaran

PSDKU UNPAD
PSDKU UNPAD Pangandaran

DAILYPANGANDARAN – Siapa yang tidak kenal Universitas Padjadjaran, nama besar yang diambil dari kerajaan legendaris di Jawa Barat ini telah lama menjadi magnet bagi para pemburu ilmu di seantero negeri.

Namun, jika selama ini benak kita selalu tertuju pada hiruk-pikuk Jatinangor, ada satu sudut lain yang mulai bersinar di ujung selatan Jawa Barat: Kampus Unpad di Kabupaten Pangandaran.

Kehadiran Unpad di pesisir ini membawa warna yang sama sekali berbeda. Jika Jatinangor adalah simbol kemegahan kampus utama, maka PSDKU (Program Studi Di Luar Kampus Utama) Pangandaran adalah representasi kedekatan. Perbedaannya bak langit dan bumi, namun justru di situlah letak pesonanya.

Belajar Tanpa Sekat

Memang, dari sisi infrastruktur, PSDKU Pangandaran tidaklah semegah “kakak tertuanya” di Sumedang. Namun, keterbatasan itu justru melahirkan suasana akademik yang intim.

Dengan jumlah mahasiswa yang lebih sedikit, sekat antara dosen dan mahasiswa seolah meluruh. Suasana belajar terasa lebih santai, hangat, dan jauh dari kesan kaku.

Uniknya, kurikulum di sini tidak disusun di atas meja kosong. Program studi seperti Ilmu Komunikasi, Keperawatan, Administrasi Bisnis, Perikanan Laut Tropis dan Peternakan. Mahasiswa tidak hanya berkutat dengan tumpukan teori di perpustakaan, melainkan langsung berhadapan dengan realita di lapangan. Alam Pangandaran adalah laboratorium raksasa mereka.

Laboratorium Sosial di Tepi Pantai

Menyandang status sebagai destinasi wisata nasional, kehidupan sosial mahasiswa PSDKU Pangandaran menjadi sangat dinamis. Alih-alih hanya berinteraksi dengan sesama akademisi, keseharian mereka diisi dengan obrolan bersama nelayan yang baru menepi, pedagang pantai, hingga wisatawan mancanegara. Interaksi alami ini secara perlahan memperluas cakrawala berpikir mereka.

Mahasiswa di sini bukan sekadar pendatang yang singgah untuk menuntut ilmu. Melalui berbagai kegiatan pengabdian dan festival kebudayaan, terjadi proses akulturasi yang kuat. Jarak antara “menara gading” kampus dan masyarakat desa pun hilang. Hal ini membentuk karakter mahasiswa yang lebih peka, tanggap, dan membumi.

Transformasi Ekonomi Desa Cintaratu

Denyut nadi pendidikan ini pun membawa berkah nyata bagi ekonomi lokal, khususnya di Desa Cintaratu. Kehadiran kampus telah menyulap desa yang tenang menjadi lebih hidup. Biaya hidup yang relatif terjangkau menjadikannya pilihan ramah kantong bagi mahasiswa, namun di sisi lain, hal ini menjadi ceruk rezeki bagi warga.

Kini, rumah-rumah kos mulai menjamur, warung makan kian ramai, hingga jasa transportasi dan UMKM lokal ikut menggeliat. Cintaratu kini memiliki wajah baru. Ia bukan lagi sekadar desa dengan pesona alam yang indah, melainkan sebuah pusat kehidupan akademik yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Menjalani masa kuliah di Pangandaran adalah sebuah pengalaman unik. Di antara deburan ombak dan suasana wisata yang kerap dijuluki “Bali Kedua”, para mahasiswa ini sedang menulis sejarah: bahwa kontribusi besar terhadap kemajuan bangsa bisa dimulai dari bangku kuliah di sebuah kampus sederhana di tepi desa.

Disclaimer: Tulisan ini dibuat dalam proses pelatihan menulis karya Jurnalistik yang digelar UNPAD PSDKU Pangandaran pada Rabu, 15 April 2026

Ditulis oleh: Fahriza, Hirzi, Handzalah dan Kartika